Project yang (takpernah) Usai

Well, dengan kepindahan tempat kerja semenjak tahun 2012 ini, ada semacam kegamangan dalam diri saya mengenai masa depan beberapa project yang dulu pernah saya handle di level teknisnya. Hampir semuanya terkait dengan pengembangan sistem informasi berbasis web.

Dulu, disamping usaha sampingan di luaran, saya sempat menginstall beberapa aplikasi cms web untuk kantor lama. Beberapa diantaranya yaitu poliblog ENotes (wordpress), E Journal (menggunakan OJS), database “komposisi proksimat” ikan (hasil kursus ngoding), aplikasi sistem pendaftaran online untuk seminar (gabungan html biasa dengan aplikasi pihak ketiga) serta beberapa web lagi yang dibuat dengan menggunakan html pull.

Sejatinya, kebanyakan aplikasi yang diinstall digunakan untuk memenuhi kebutuhan akan suatu kompetisi perankingan institusi berbasis web (webometrics untuk R n D). Seperti penggunaan wordpress yang disinyalir ampuh untuk meningkatkan nilai indikator size (saya gunakan juga untuk optimasi indikator rich files), ojs yang sangat powerfull untuk indikator scholar dan sebagainya. Sejauh ini aplikasi tersebut di atas menunjukkan hasilnya. Pada dua edisi terakhir (Juli 2011 dan Januari 2012, setelah domain dkp.go.id menjadi kkp.go.id awal Januari 2011) posisi web kantor lama selalu di posisi 4 Indonesia.

Saya pribadi sempat “tidak pegang” sama sekali keberadaan aplikasi-aplikasi tersebut di akhir 2011. Awal 2012, saya sempatkan mengecek keberadaan mereka. Beberapa kejutan misalnya ENotes (wordpress) disusupi spam, database “komposisi proksimat” ikan menyusut datanya (tadinya ada 100-an data, hanya tersisa 10 data saja) dan beberapa lagi lainnya. Bahkan sebetulnya web yang berbasis full html tidak pernah diupdate lagi sejak dibuat. Namun, nomor 4 Indonesia (dan nyaris menjadi nomor 3 Indonesia) masih tetap bisa dipegang dengan kondisi yang seperti ini.

Tanggal 27 Februari 2012 lalu, IPB mengadakan seminar nasional (yang namanya panjang sekali) dengan nama pendek seminar webo. Pembicaranya dari beberapa institusi yang memang jawara di webometrics (ada ITS dengan repositorynya, ada LIPI yang nomor 1 untuk R n D, puncaknya ada Isidro yang merupakan “pembuat” webometrics). Saya pribadi tidak hadir, namun panitia seminarwebo sunggu baik sekali. Dari websitenya (seminarwebo.ipb.ac.id), kita bisa mendapatkan makalah dan presentasi pembicara serta mengetahui peserta yang datang darimana saja.

Beberapa institusi R n D yang ikut hadir misalnya LIPI, litbang deptan, litbang ESDM, litbang PU, litbang Kemenkes dll. Dua yang terakhir memang belum masuk katalog dan perankingan webometrics. Namun, pada pertengahan 2011 saya sempat mengukur bahwa jika litbang Kemenkes masuk ke dalam list webometrics R n D, maka webnya berpeluang untuk langsung jadi nomor 3 atau 4 Indonesia. Apalagi litbang PU dengan segala macam SNI konstruksi bangunan yang bersumber dari mereka :-) . Kiranya, admin (dan tim) kantor lama harus siap untuk mempertahankan posisi yang telah ada.

Untuk hal tersebut di atas, tulisan ini saya buat. Why? Ya, saya memang punya akun untuk mengakses level admin nun jauh di sana; cuma netiket mengatakan bahwa saya tidak punya legal akses untuk hal itu. Mohon maaf jika tidak bisa membantu dan hasilnya masih sama seperti yang dulu.

Thanks

Update:

beberapa gambar terkait bisa dilihat pada link berikut.

OJS versi bahasa Indonesia

Akhir April 2011 lalu, kantor (BBRP2B) mengadakan acara sosialisasi teknik penulisan karya ilmiah. Well, semoga penulis (peneliti) lingkup BBRP2B makin rajin nulis ya :-) .

Namun bukan itu yang hendak saya bahas. Salah satu pembicara, pak Lukman dari PDII LIPI, membawa berita ‘bahagia’. Bahagia dalam tanda kutip bagi saya. Berita tersebut yaitu : OJS sudah dialihbahasakan oleh PDII LIPI dari boso English ke bahasa Indonesia.

Apa itu OJS?

OJS atau Open Journal System, merupakan software keluaran PKP Kanada. Dengan software ini, diharapkan pengelolaan jurnal dari awal (submission paper), proses pimpong antara penulis dan redaksi, sampai dengan akhir berupa publikasi; dilakukan dengan software ini. Satu lagi, software ini bisa dibilang software instant untuk web, sama seperti cms lain (joomla, wordpress, dkk). Bedanya yang ini untuk jurnal. Info lebih lanjut:andrew getux.

Kendala di Indonesia

Kendala di negara kita (umumnya) terkait dengan OJS dan jurnal

1. di instansi kita rata-rata jurnal digarap dengan kertas dan manual. Hasil jadi dalam bentuk cetak.

2. Peran OJS yang diharapkan oleh si empunya pembuat tidak terjadi (awal s/d akhir pengelolaan jurnal menggunakan OJS).

3. Kita hanya butuh meng-online-kan saja

Kalo cuma butuh meng-online-kan, kenapa harus pake OJS?

1. ada teman-teman software yang lain, seperti eprints, dspace, dll. Bahkan kalo sekedar meng-online-kan biasapun, cms semacam joomla dan wordpress sudah cukup. Namun ……

2. Ada target lain yang diharapkan, yaitu : paper yang dipublish dengan OJS bisa masuk ke google scholar.

Google scholar vs OJS

Setahun yang lalu, saya sempat mengikuti pelatihan webometrics. Salah satu software yang dianjurkan untuk menaikkan peringkat webometrics (baca: meningkatkan jumlah file yang diindeks oleh google scholar) adalah OJS.

Usut punya usut, setelah saya baca guidelines dari google scholar (GS), ada satu item yang cukup menarik mengenai parameter pengindeksan oleh GS. Suatu file (pdf, html) bisa jadi/mungkin masuk ke indeksnya GS jika ada bagian berupa references atau bibliography di akhir.

If you’re an individual author, it works best to simply upload your paper to your website, e.g., www.example.edu/~professor/jpdr2009.pdf; and add a link to it on your publications page, such as www.example.edu/~professor/publications.html. Make sure that (a) the full text of your paper is in a PDF file that ends with “.pdf”, (b) the title of the paper appears in a large font on top of the first page, (c) the authors of the paper are listed right below the title on a line by itself, and (d) there’s a bibliography section titled, e.g., “References” or “Bibliography” at the end. That’s it! Our search robots should normally find your paper and include it in Google Scholar within several weeks. If it doesn’t work, you could either (1) read more detailed technical guidelines below or (2) check if your local institutional repository is already configured for indexing in Google Scholar, and upload your papers there.

Jadi urut-urutan normalnya dalam paper ilmiah (di Indonesia): Judul paper, penulis, kontak penulis, abstrak, pendahuluan, metodologi, hasil pembahasan, kesimpulan dan daftar pustaka.

Dalam versi Inggris daftar pustaka ini kerap dijumpai sebagai references atau bibliography.

Nah, karena paper di Indonesia menggunakan daftar pustaka; bukan references atau bibliography; sehingga gak nongol di indeksnya GS. Hal ini sudah saya buktikan di web ejournal BBRP2B. Saya hanya input abstrak paper dalam bahasa Indonesia. Diakhir tiap abstrak selalu ada kata references (default dari OJS). Sekitar 2 minggu kemudian, paper (yang hanya abstrak tersebut) sudah nongol di indeksnya GS. Sudah ada 127 paper dari BBRP2B yang sudah diindeks. Silakan cek di sini.

OJS vs OJS alihbahasa

Nah, jika OJS-nya dialihbahasakan ke bahasa Indonesia, kata references juga ikut-ikutan dialihbahasakan; akankah si paper (yang mungkin cuma abstraknya saja) masih bisa masuk ke GS? Masih menjadi tanda tanya buat saya.

Untuk OJS versi bahasa Indonesia, demo-nya bisa dilihat di www.pdii.lipi.go.id/baca. Namun belum ada satupun  papernya yang diindeks oleh GS. Silakan cek di sini.

Fitur baru (uji coba) : pendaftaran pemakalah online seminar BBRP2B

Halo, web untuk semnas di BBRP2B dalam tahap penyempurnaan konten. Salah satu item yang ditambahkan adalah fitur pendaftaran online untuk pemakalah.

sila cek di alamat berikut: http://www.bbrp2b.kkp.go.id/semnas/index.php?page=daftar.php

aseli lokasinya : http://www.bbrp2b.kkp.go.id/en/pendaftaran-pemakalah-seminar-2011/

RCMFPPB

Apa itu RCMFPPB?

Well, ini bukan paid posting aka posting berbayar. Ini posting karena saya cinta dan bekerja untuk bangsa ini *halah*
Per 3 Januari yang lalu, domain Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berubah dari www.dkp.go.id menjadi www.kkp.go.id. Sebagai salah satu bagian dari KKP, domain kantor saya juga berubah. Berubah menjadi www.bbrp2b.kkp.go.id.

Semua berubah! Perubahan (yang menurut saya) mendadak. Alamat lama langsung hilang. Email di domain lama juga wassalam.

Terkait dengan web kantor (yang jumlahnya ada sekitar 11-an web), ada link-nya yang otomatis ngikut ke alamat baru, ada yang harus edit satu-satu (untung ada fitur find and replace) …. dan ada juga webnya yang gag bisa diapa-apain lagi. Alias rusak berat. Setidaknya, website utama plus 6 website sudah beres link-nya. Masih ada sekitar 3-4 web lagi yang harus dikerjakan. Ada satu web yang harus dibuat ulang.

Dari pengalaman perubahan domain ini, ada beberapa hal yang bisa saya pelajari:

1. Back up web versi offline sangat-sangat diperlukan
2. Email kantor sebaiknya tidak usah digunakan
3. Mesin joomla, sebagian besar link di artikelnya bisa mengikuti perubahan domain.
4. Mesin wordpress, hancur lebur dengan perubahan domain ini. Web bisa diakses dengan alamat baru; tetapi posting, page, tag, kategori, bahkan dashboard masih mengikuti alamat lama. Sementara alamat lama sudah hilang..lang. Wassalam sudah. Yang ini nampaknya harus dibuat ulang. Sebetulnya ada tutorialnya sih, hanya saja ada syaratnya, yaitu alamat lama harus masih bisa diakses. Lha kasus yang terjadi, alamat lama sudah hilang.
5. Perubahan nomenklatur yang sangat dinamis harus bisa diantisisapi dengan cepat.

Posting ini sebetulnya untuk curcol plus memperkenalkan website kantor yang baru. Sila tengok : www.bbrp2b.kkp.go.id

Adapun RCMFPPB adalah nama kantor saya dalam bahasa Inggris.

Departemen dan Kementerian

Blah, gara-gara om Jay kirim email ke kampung, baru nyadar. Ternyata gag cuman Pertahanan saja yang berubah bentuk dari departemen menjadi kementerian, DKP juga. Entah mulai kapan, di situsnya (www.dkp.go.id), titelnya sudah berubah menjadi Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Yang jelas, sama kayak BNI ganti logo beberapa tahun lalu, atau Bank Century berubah jadi Bank Mutiara; perubahan nama berarti perubahan (hampir) segalanya: kop surat, kop amplop, stempel, papan nama kantor, tulisan yang nemplok di body mobdin, badge seragam dan lain-lain.

Saya gak terlalu peduli dengan semua itu, wong paling juga sudah ada anggarannya. Yang saya khawatirkan cuman satu (sebagai orang yang masih belajar SEO), perubahan NAMA DOMAIN WEBSITE DKP. Itu saja.

Kenapa?

Di kantor saya yang di Slipi lagi ada semacam usaha agar website kantor masuk ke daftar pemeringkatan webometrics untuk institusi riset. Alhamdulillah sudah didaftarkan, sudah diapprove, tinggal nunggu nongol aja di webnya webometrics pada akhir Januari 2010 ini.

Nah, namanya juga satker, numpanglah kita di domain pusat. Kalo nama domain DKP berubah (jadi KKP.GO.ID misalnya), artinya kita ikut berubah juga donk; dan itu artinya:

1. Bisa jadi buat website dari awal

2. Pagerank  yang sudah bagus (4/10 untuk bahasa Indonesia dan 2/10 untuk English) musnah

3. Halaman yang terindeks oleh Google sudah gak penting lagi

4. dan kirim email lagi ke webomatrics, bahwa kita ganti URl :(

*tepok2 jidat*

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 394 pengikut lainnya.