Jalan tanpa parit

Hidup di Bogor sejak tahun 2003, melihat berbagai sudut, menempuh berkilo-kilo meter jalan; saya menemukan sebuah keteraturan diantara sekian banyak kesemrawutan yang ada di Bogor. Keteraturan itu tak lain dan tak bukan adalah jalan yang rusak lagi tak lama setelah diperbaiki. Hal ini saya anggap sebuah keteraturan karena terjadi di (hampir) semua ruas jalan.

Saya tidak tahu (dan tepatnya tidak ambil pusing), apakah itu jalan merupakan wewenangnya pusat, propinsi atau kota/kabupaten untuk perbaikan/perawatan. Tapi yang jelas, ya itu tadi, jalannya rusak tak lama setelah diperbaiki.

Dulu kala, jalan baru adalah jalan yang sering banget rusak. Jalan sering ambles. Suatu ketika saya melihat pengurugan (calon) jalan. Eh, ternyata yang digunakan adalah tanah dengan banyak kandungan sampah di dalamnya. Bisa jadi jalannya ambles karena tanah di bawahnya adalah tanah sampah itu tadi.

Lagi

Naik Kereta

Sebenarnya sudah lumayan sering naik KRL. Cuman ada beberapa kejadian (yang menurut gw) unik.

1. Tiap pagi (sekitar jam 6) di stasiun Bogor, pengemis-pengemis yang cacat kakinya digendong oleh seseorang dari luar stasiun dan dimasukkan ke gerbong krl.

2. Tuna netra yang biasa nyanyi-nyanyi, bisa dengan baiknya turun dari krl di stasiun Bojong.

3. Seorang ibu, ngesot di lantai gerbong krl, sambil dipandu anaknya. Pura-pura bersihin lantai dengan tangannya, sembari ngemis. Di jidatnya ada warna merah (yang mungkin karena obat merah biasa). Tak seorangpun digerbongku yang memberinya uang. Kupikir dia gak bisa jalan, ternyata … ketika krl berhenti di sebuah stasiun … dengan cepat dia melesat keluar dari kereta (sembari nggendong anaknya) …. dan sesaat sebelah itu, beberapa orang di gerbong tertawa dan senyum-senyum.

Dunia yang penuh sandiwara :)

Posisi terhadap angkot

Ngutip ucapannya Iwel-wel, posisi kita (pengendara) terhadap angkot ada 3:

1. Kalo kita di belakangnya, angkotnya suka berhenti mendadak

2. Kalo kita di depannya, sopirnya nglaksonin mulu’

3. Kalo kita di sampingnya, sopir angkotnya ke-GR-an. Dkiranya kita ngajakin balapan.

Tapi kayaknya ada posisi lain deh … jadi penumpang :P

Kalam Tege

Di tengah hiruk pikuknya (halah) suasana Kota Bogor yang panas dan gersang, di pinggir sebuah jalan di daerah Bantarjati, ada sebuah tempat dimana sakit perut dan tenggorokan kering bisa diobati. Yup, tempat makan dan minum :-P

Tanya: Lho, lantas apa keistimewaannya? Bukannya sama aja sama tempat makan minum yang lain?
Jawab: Klo gak ada istimewanya gak bakal diposting :-P

Beberapa keistimewaannya yaitu:
1. Lokasinya di Bantarjati Bogor (strategis, dekat jalan Pajajaran)
2. Dikelola oleh komunitas anak muda dan mantan preman. Komunitasnya bernama Kalam Tege (komunitas peduli kampung halaman tegal gundil). Kenapa tegal gundil, bukan tegal yang lain? Sila tanya ke Om Zumux.
3. Banyak aneka makanan dan minuman (klo ini dah jelas :-? )
4. Yang jadi sesepuh di sana adalah salah seorang Blogger.
5. Komunitas itu gak melulu urusan gastronomi (perut) dan kuliner aja, mereka punya perpustakaan, unit usaha (bikin kawos dan PIN), punya koran, punya radio (penyiarnya OK).
Tulisan ini merupakan bagian dari acara Kopdar Bantarjati Bogor 18 Agustus 2007. Gambar-gambar bisa dilihat pada link-link yang tercantum pada tulisan di atas. Gambar secara lengkap bisa dilihat di SINI.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 394 pengikut lainnya.