Purbowaseso

Dari semenjak terakhir kali memutakhirkan blog ini, telah banyak hal-hal terjadi di luaran sana. Semenjak 2016, hal-hal yang berbau politik (nasional) makin masuk dan meruyak ke dalam. Ruang-ruang kosong di masyarakat kita, bahkan pada tataran keluarga-pun dipenuhi dengan hal-hal berbau politik.

Mungkin betul, bahwa sebetulnya hal-hal ini tak melulu karena masyarakat kita makin cerdas, atau makin modern di tengah hiruk pikuk alam demokrasi. Namun juga karena didukung ketersediaan berbagai fasilitas yang ada. Gadget makin membumi, harga paket data makin murah; sementara (mungkin) sebagian besar di antara kita belum siap betul menghadapi keramaian jagad tanah air di dunia maya.

Purbowaseso. Istilah ini baru saya kenal sekitar 2-3 hari lalu melalui cerita perebutan tahta kasultanan Demak yang diceritakan secara apik dalam narasi kisah diksi yang ditulis oleh Apung Swarna (lengkapnya bisa dibaca di sini: https://keris-kyai-setan-kober.blogspot.com/). Purbowaseso alias kekuasaan-lah yang selama ini menjadi inti utama keramaian-keriuhan yang ada di kita. Di level akar bawah ribut, sementara di level atas saling tos, makan dan minum bersama. Serangkaian kisah di masa lalu pun terjadi dengan alur yang kurang lebih sama. Itulah makanya ada yang namanya Sengkuni, tokoh protagonis, tokoh antagonis, dst.

Kisah fiksi sejarah di berbagai buku yang bertengger di rak-rak toko buku dan perpustakaan kita, ternyata berkesesuaian dengan apa yang ada saat ini. Mungkin hanya beda waktu, lokasi dan tokoh-tokohnya.

Sejarah ternyata bisa diceritakan secara sederhana ya. Dan ada pengulangan-pengulangan.

Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2016

cover rekomtek

Finally, akhirnya diterima juga buku Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan (rekomtek) tahun 2016 dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan :-). Sayangnya, terbitnya buku ini tidak dibarengi dengan terbitnya Keputusan Menteri KP untuk payung legal rekomtek ini.

Buku ini merupakan tindaklanjut dari UU Nomor 16 Tahun 2016 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, sekaligus perwujudan fungsi Komisi Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Komisi Litbang KP) sesuai Keputusan Menteri KP Nomor 43/KEPMEN-KP/2013 tentang Komisi Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan. Sejauh yang pernah saya dengar, teknologi yang disampaikan oleh penyuluh kepada pelaku usaha seharusnya merupakan teknologi yang sudah terekomendasi oleh unit litbang. Dalam hal ini salah satunya melalui penerbitan buku ini.

Lantas, apa hubungannya dengan Kepmen KP untuk payung legal rekomtek ini? Hal ini salah satunya terkait dengan pemanfaatan buku rekomtek ini oleh peneliti itu sendiri. Jika buku rekomtek ini juga ditemani dengan Kepmen KP pada saat pengajuan angka kredit, angka kredit yang diperoleh (dikabarkan) bisa mencapai 50 poin. Aturan tentang hal ini salah satunya ini bisa kita telusuri di web pusbindiklat peneliti LIPI (menu download, juknis JFT peneliti – Perka LIPI No 2/2014), dimana rekomtek ini diharapkan bisa masuk ke unsur III.A).

Sejauh ini melalui database peraturan hukum milik KKP di alamat infohukum.KKp.go.id, terakhir kalinya diterbitkan Kepmen KP Nomor 77/KEPMEN-KP/2014 dan Kepmen KP Nomor 116/KEPMEN-KP/SJ/2014 untuk rekomtek 2014.

Sudahlah, tak mengapa. Oh iya, saya dan tim di kantor urun beberapa halaman di buku rekomtek ini. Selengkapnya bisa diunduh melalui halaman ini (link tidak hidup, mohon disalin-tempel manual).

https://drive.google.com/file/d/0B0QjNAO4Yh8hZVFidHdpY2hQSG8/view?usp=drive_web

Update:

ada info dari Pak Fauzan Hidayat, jika link di atas tidak aktif. Sebagian dari file rekomtek tersebut adapat diunduh melalui tautan berikut

  1. Alat Pencacah Tulang dan Kepala Ikan – Shredder untuk Pengolahan Tepung Ikan. Luthfi Assadad, Bakti Berlyanto Sedayu, Wahyu Tri Handoyo
  2. Rekayasa Proses Pengolahan Abon Ikan Secara Mekanik. Jamal Basmal, Luthfi Assadad, Arif Rahman Hakim.

Update2:

Ada info dari Sdr. Edwin Lutfi untuk link valid dan resmi dari web BRSDMKP. Bisa ke halaman ini

http://brsdm.kkp.go.id/detail_jurnal/km/rekomendasi-teknologi-kelautan-dan-perikanan-2016

Konten Positif

Bertahun lampau, jaman para blogger masih pada aktif, ada sebuah idiom internet sehat dan konten positif. Saat itu, hoaxes juga bertebaran tapi dengan mudah dibantah dan dicari kebenaran atau fakta sesungguhnya. Internet alias dumay rasanya masih bisa dibedakan dengan jelas mana web berita, mana web gosip, mana web esek2, mana web tempat dunlut pilem. Youtube pun belum terisi vlog dan tercemar berita2 yang isinya potongan dan dubbing-an mesin.

Belakangan ini, ekses dari pemilihan ketua kelas, semua hal di internet tercampur aduk. Web2 kepercayaan dengan type 2.0, web media terpercaya sebagian terisi hoax dan fitnah. Sehingga menyebabkan keraguan untuk melanjutkan berlangganan melalui media RSS dan kawan-kawannya.

Konten positif (versi saya) makin sedikit, dan saya tak jua ikut berkontribusi. Padahal katanya blogger.

Anything happened in my life, what’s going on around, my thoughts will be blogged *ceunah.

Akhirnya dengan modal satu dua poto, saya upayakan kembali posting artikel. Gak muluk-muluk. Sekedar demi bercerita apa yang terjadi di balik sebuah poto, dan juga misi kembali berlatih menulis.
*kali ini tanpa poto

Kereta Kencana

kuda

Dalam perjalanan ke pabrik alias opis hari ini, di sepanjang jalan Imogiri Barat saya menemukan ‘kotoran kuda’ di beberapa titik. Ada apakah gerangan? Ntahlah.

Sependek pengalaman saya menyusuri jalan ini selama beberapa tahun ini, baru kali ini saya menemukan hal ini. Apakah ada semacam acara mencari jejak ala dora dengan menggunakan kotoran kuda? *agak jorok

Pertanyaan saya terjawab tatkala sesaat kemudian saya berbalik arah menelusuri jalan yang sama ke arah kota menuju RSUD. Ada konvoi kereta kuda alias delman alias andong menuju arah Selatan. Entah sedang ada keramaian apa di sana. Mengingat para kusirnya sudah berkostum rapi dengan menggunakan baju surjan bermotif kembang khas ngayogyakarta. Tetiba teringat Umar Kayam (mendiang) dengan kereta kencana garuda yaksa yang ternyata adalah sebuah jip.

Di jalur yang satunya, saya dan rombongan motoris berpacu ke arah kota. Konvoi juga. Tapi ke tempat tujuan yang berbeda-beda.
*gambar sekedar ilustrasi, ditemukan via google

Sapi dan Mekanisasi

sapi - klaten

Mekanisasi katanya adalah penggunaan mesin yang tersistem untuk menggantikan berbagai proses yang menggunakan tenaga manusia maupun hewan.

Perlu proses “agak panjang” untuk menemukan alat bantu sekaligus alat pengganti tenaga manual tersebut. Hal ini tidak bisa sim salabim, bahkan yang lebih lama sedikit dari sim salabim seperti kejar tayang 1 malam ala Bandung Bondowoso-Roro Jonggrang pun belum tentu. Guyonannya, cuma kapal selam (pempek, bukan kapal selamnya TNI AL) dari Palembang yang bisa dibikin dalam sekejap.

Sapi purna tugas dari per-gula-an

Sejarah pembikinan gula pun dimulai dengan hal-hal sederhana. Misalnya alat untuk memeras tebu (gambar di bawah) yang masih menggunakan tenaga sapi untuk memutar 2 buah silinder, dimana batang-batang tebu dilewatkan/dijepitkan melalui 2 buah silinder tersebut hingga menghasilkan air tebu yang siap diproses lebih lanjut (sambil berdoa rendemen-nya tinggi).

Sapi yang berjasa besar ini diberi upah dedaunan tebu yang masih hijau plus ampas dari pengolahan gula (kabarnya begitu). Feses / tinja / manure dari sapi siap ditampung untuk pupuk di lahan.

Demikian bertahun-tahun hingga muncul-lah alsin pengganti tenaga sapi tersebut. Sapi-pun purna tugas dari area per-gula-an.

*gambar diambil di Museum Gula Gondang Winangoen – Klaten, Jawa Tengah

Perikanan – Agrokompleks

selam - surabaya

Bahwa perikanan saat ini masuk ke pertanian secara umum (agro kompleks), hal ini telah kita alami dan sadari bersama. Contoh yang klir saja: fakultas perikanan dan ilmu kelautan (salah satunya) ada di institut PERTANIAN bogor, departemen perikanan ada di fakultas PERTANIAN ugm.

Sejak jaman purbakala, setelah fase berburu dan meramu, para homo sapiens dikabarkan mulai bercocok tanam. Hingga kemudian mulai membuat alat-alat sederhana yang digunakan untuk bercocok tanam. Dus, hingga kemudian ada sebagian “kecil” yang nyasar, mulai ke area pesisir.

Turun temurun hingga kemudian munculnya raja-raja di tanah jawa, yang sebagian besar riwayatnya terlacak secara tertulis (dibandingkan para homo sapiens yang hanya meninggalkan artefak). Raja-raja inipun kita kenal memulai pemerintahan dari tengah2 pulau, jauh dari area pesisir. Memulai dari pertanian. Termasuk sistem irigasi, penyimpanan benih dan hasil panen secara tradisional yang hingga kini sebagian masih dipraktekkan oleh petani kita.
Air? Pesisir? Paling dekat menurut cerita turun-temurun adalah cerita tentang raja2 kita yang bertapa, mencari wangsit di aliran sungai.

Makanya, among tani dagang layar yang digalakkan di tlatah ngayogyakarta (insya alloh akan ada agendanya Mei yad) perlu disupport dan didukung bersama. Rumangsa melu handarbeni, rumangsa wajib hangrungkebi, mulat sarira hangrasa wani.

*poto di depan museum kapal Selam, Surabaya.

Fitur Justify di kotak editor wordpress.com

Entah sudah berapa lama saya tidak memutakhirkan blog ini, saat kemudian tersadar bahwa ada fitur yang menghilang dari kotak editor untuk memposting tulisan di blog wordpress.com ini. Fitur yang saya maksud yaitu fitur untuk membuat rata kika (kiri-kanan) alias justify.

Menu ini hilang, atau tidak ada ketika tulisan dibuat/disunting melalui alamat namablog.wordpress.com/wp-admin/post-new.php. Namun ketika diakses melalui tampilan anyar wordpress.com untuk penulisan di alamat wordpress.com/post/namablog.wordpress.com. Padahal alamat yang terakhir cukup berat untuk diakses, mungkin ini ciri khas web yang purposive layout-nya, atau kalau nggak salah identik dengan html 5. Wallahu a’lam.

versi lama
versi baru, ada menu untuk justify

 

Mengenang Prof. Andi Hakim Nasoetion (1932-2002)

Asep Saefuddin
Rektor Universitas Trilogi/Guru Besar Statistika FMIPA IPB

Professor Andi Hakim Nasoetion yang di IPB sering disebut Pak Andi adalah Guru Besar Statistika dan Genetika Kuantitatif IPB. Tanggal 30 Maret sebagai tanggal lahirnya sering dijadikan hari syukuran dan silaturahmi para dosen statistika ketika Pak Andi masih hidup. Tahun 1997 saya mendapat tugas menjadi Ketua Silaturahmi dalam rangka 65 tahun Pak Andi. Pada saat itu Beliau membagikan T-shirt warna putih yang bertuliskan “carilah kebenaran, bukan ketenaran, maka bertemulah keduanya”.

Tahun 1960 Pak Andi adalah salah seorang dosen IPB yang dikirim oleh Prof. Thojib Hadiwidjaja (Dekan Fakultas Pertanian UI 1954-1962) melalui Kentucky Project dalam rangka memperkuat ilmu-ilmu dasar pertanian di Indonesia. Prof. Thojib melihat kekuatan kuantitatif Pak Andi, maka mengirim ke Universitas Kentucky untuk program S3 matematika. Akan tetapi Pak Andi merasa akan lebih bermanfaat mengambil statistika terapan untuk pemuliaan tanaman. Karena bidang itulah yang akan diperlukan IPB sebagai universitas pertanian satu-satunya di Indonesia. Adapun matematika, menurut anggapannya, bisa diisi oleh dosen dari ITB yang saat itu sudah sangat kuat dalam bidang matematika. Pada dekade 60, memang mata kuliah matematika di IPB diberikan oleh Drs. Rawuh, dosen ITB yang terkenal dengan buku-buku aljabar pada dekade 60 dan 70. Demikianlah kisah Pak Andi yang dituangkannya dalam buku berjudul “Here I came. Reaching for the best” ( Nasoetion, 1988).

Di Amerika Pak Andi memilih NCSU (North Carolina State University) yang kuat dalam bidang statistika, pemuliaan tanaman, dan genetika kuantitatif. Di sana saat itu ada Prof. Getrude Cox, tokoh perempuan statistika yang menjadi bagian Triangle Research Center di North Carolina. Ada Prof. Steel dan Prof. Torrie yang legendaris dengan buku Experimental Design and Statistical Analysis (buku wajib mahasiswa Pascasarjana IPB thn 75-90an). Juga ada mahasiswa jenius, James Goodnight, yang setelah PhD membangun perusahaan rintisan (startup company) dalam bidang statistika, bernama SAS yang saat ini sudah menjadi perusahaan analitik terbesar di dunia.

Pak Andi dibimbing oleh Prof. Cockerham, guru besar statistika dan genetika kuantitatif yang sangat kondang pada dekade 60-90. Beliau sangat dikagumi para ilmuwan, terutama statistika dan genetika kuantitatif. Pada tahun 1987, para ahli bidang tersebut mengadakan konferensi khusus dalam rangka 70 tahun Prof. Cockerham. Para mahasiswa genetika kuantitatif di kampus-kampus Amerika dan Kanada, wajib membaca buku tersebut untuk mengetahui sejarah dan trend bidang genetika kuantitatif dan statistika. Saya membeli buku tersebut karena dua alasan. Pertama untuk pegangan mata kuliah Quantitative Genetics in Animal Breeding, dan kedua untuk mengetahui lebih jauh Guru dari Guru saya. Pak Andi adalah Guru yang membimbing skripsi S1 saya di Departemen Statistika dan Komputasi Fakultas Pertanian IPB (1976-1980).

Pak Andi boleh dikatakan sebagai peletak pendidikan statistika di IPB bahkan di Indonesia. Sepulang dari tugas belajar, Pak Andi adalah satu-satunya ahli statistika di IPB. Pada pertengahan tahun 60, tidak banyak yang mengenal perancangan percobaan dan analisis statistika. Sehingga saat itu para peneliti tidak peduli dengan kesalahan pengukuran, galat (error), ulangan (replication), apalagi pemodelan dan analisis. Percobaan dilakukan tanpa basis statistika yang kokoh.

Penarikan kesimpulan untuk membedakan pengaruh perlakuan sering dilakukan hanya dengan dua contoh untuk dua perlakuan. Begitu berbeda, lalu ditarik kesimpulan bahwa perlakuan ini lebih baik dari itu. Mereka tidak bisa menjawab ketika Pak Andi menanyakan bagaimana kalau salah ukur. Jangankan membahas faktor-faktor lainnya yang bisa jadi mempengaruhi percobaan. Pemodelan statistika saat itu masih belum dikenal. Untuk itu, Pak Andi lalu membuka ruang konsultasi statistika (saat itu diberi nama Unit Biometrika) bagi para dosen dan mahasiswa tingkat akhir. Sejak saat itulah mulai para dosen dan mahasiswa sadar betapa pentingnya statistika.

Lalu pada tahun 1972, Unit Biometrika diperbesar menjadi Departemen Statistika dan Komputasi Fakultas Pertanian IPB. Departemen inilah yang menjalankan program studi statistika S1 lalu tahun 1975 dibuka S2 Statistika Terapan. Pada dekade 70, di Indonesia hanya ada dua prodi S1 statistika, yakni IPB dan UNPAD dan satu Akademi (setara D3) di bawah BPS Jakarta. Saat ini program studi S1 di Indonesia sudah menyebar di Nusantara sebanyak 28 program. Bahkan di IPB, ITB dan ITS sudah menjalankan pendidikan doktor statistika. Hal ini tidak terlepas dari peranan Pak Andi, sehingga pada tahun 2014 ISI (Ikatan Perstatistikaan Indonesia) dan BPS memberikan penghargaan dengan memberi gelar “Bapak Statistika Indonesia”.

Selain memberikan konsultasi gratis, Pak Andi sejak pulang dari tugas belajar rajin menulis buku yang berkaitan dengan matematika dan statistika. Diantaranya adalah Matematika Mutakhir (1968) yang akhirnya diterbitkan Penerbit Bharata dengan judul Landasan Matematika (1973, 1976), Statistika Pertanian (1970), Aljabar Matriks (1973), Teori Statistika (1971), Statistika untuk Penarikan Kesimpulan (1974), Pengantar Ilmu-ilmu Pertanian (1983), Pengantar ke Filsafat Sains (1986), Here I Came: Reaching for the best (1988), Al-Qur’an dan Lingkungan Hidup (2000), serta buku-buku lainnya yang berkaitan dengan pertanian dan pangan.

Disamping menulis buku, Pak Andi rajin menulis di berbagai media cetak (waktu itu belum ada internet, medsos, FB, dll) dalam berbagai pemikiran pendidikan, agama, sosial, filsafat, pertanian, serta tentunya statistika/matematika. Kumpulan tulisan itu dirangkum dalam buku Daun-daun Berserakan (editor: Damanhuri, 1985, dicetak ulang tahun 2011) dan Pola Induksi Seorang Eksperimentalis (editor: Saefuddin, 2002, dicetak ulang tahun 2016).

Dekade 70 di kalangan guru SD, SMP dan SMA, Pak Andi dikenal sebagai salah seorang penggagas matematika “modern” atau “matematika baru” yang isinya adalah teori himpunan. Akhir tahun 70, matematika modern/baru menggantikan mata ajaran berhitung dan aljabar. Seperti biasa, konsep-konsep baru membuat orang-orang yang mapan merasa terganggu. Akan tetapi, akhirnya mereka bisa menerima karena matematika itu menjadi landasan bagi perkembangan ilmu dan teknologi, seperti komputer yang saat ini sudah menjadi barang biasa. Sewaktu saya diterima IPB, guru matematika dan fisika memperlihatkan buku Teori Himpunan Depdikbud terbitan 1975. Buku itu ditulis oleh para ahli matematika Indonesia dimana Pak Andi sebagai Ketua Tim. Kedua Guru itu mengatakan “kamu nanti akan ketemu Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetion”.

Bagi kalangan Perguruan Tinggi, Pak Andi dikenal sebagai penggagas pendidikan sarjana S1 empat tahun (1972), penerimaan mahasiswa berbasis rapor SMA dan informasi prestasi lainnya (1975), program pascasarjana S2 (1975), serta pendidikan doktor tersistem (1979). Saat ini semua program itu sudah menjadi rutin di PT Indonesia. Hampir semua gagasannya itu diluncurkan pada bulan Maret. Sehingga sejak tahun 2004, di IPB bulan Maret disebut sebagai Bulan Inovasi, the innovation month. Pada tahun itulah IPB mendapat hibah dari Yayasan Inovasi USA, The Lemmelson Foundation. Mr. Lemmelson adalah inovator produktif di Amerika yang menerima banyak royalti dari penemuannya. Sebagian dari pendapatannya diberikan kepada institusi yang memiliki banyak inovasi di berbagai negara, termasuk India, Indonesia, dan negara-negara Amerika Latin. Di IPB hibah itu menjadi titik awal berdirinya Pusat LRAMP ( Lemmelson Recognition and Mentoring Program) yang diarahkan bagi para grassroot innovator (mahasiswa dan masyarakat).

Dalam manajemen pendidikan tinggi, pengalaman Pak Andi sangat kaya. Sebelum ke Amerika Pak Andi adalah Sekretaris Akademik Akademi Pertanian Ciawi Bogor (1957-1959). Sepulang dari tugas belajar Beliau memegang beberapa jabatan struktural antara lain 1. Ketua Unit Biometrika (1966-1972), 2. Dekan Fakultas Pertanian IPB (1968-1970), 3. Ketua Departemen Statistika dan Komputasi Fak Pertanian IPB (1972-1978), 4. Direktur Pendidikan Sarjana IPB (1970-1978), 4. Dekan Sekolah Pascarjana IPB (1975-1978), 5. Rektor IPB (1978-1986), 6. Dekan FMIPA IPB (1990-1994), 7. Rektor STT TELKOM Bandung (1997-2001).

Pada saat yang sama di tahun-tahun itu Pak Andi adalah Ketua Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) LIPI-Depdikbud (1975-2002) dan Ketua Tim Olimpiade Matematika Indonesia (1992-2002). Banyak para pemenang LKIR dan Olimpiade Matematika itu yang diundang menjadi mahasiswa IPB tanpa harus mengikuti ujian saringan masuk. Saat ini diantara mereka sudah menjadi guru besar dan peneliti di berbagai negara, serta pegawai pemerintah (PNS), entrepreneur dan guru SMA/K di Tanah Air.

Warga Bogor yang tergabung dalam kelompok kekeluargaan Bobat (Bogor Sahabats) sangat mengagumi sosok Pak Andi sebagai tokoh pendidikan nasional. Pada tahun 2015 Bobats meminta Bima Arya sebagai Wali Kota Bogor untuk memberikan penghormatan kepada Pak Andi. Bobats menyarankan penghormatan itu dalam bentuk penamaan salah satu jalan di Kota Bogor. Permohonan itu disambut gembira oleh Bima Arya, disaksikan oleh beberapa anggota DPRD Kota Bogor. Warga Bobat tentu sangat senang atas sambutan hangat Wali Kota Bogor tersebut. Entah apa sebabnya gagasan penamaan Jalan Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetion itu belum terwujud sampai sekarang. Saya sebagai Warga Kota Bogor dan tergabung dalam Bobats mengingatkan Bima Arya untuk merealisasikan janji dua tahun yang lalu itu. Semoga semua ini segera terwujud dan menjadi kebanggaan warga Kota Bogor. Aamiin.

Dokter Rimbu

#Dokter Rimbu#

Rekan2,

Saya sedang mencari novel djadoel terbitan Balai Pustaka berjudul “Dokter Rimbu”. Terbitan sekitar tahun 1960an.
Pengarangnya el-Hakim (nama samaran dari Abu Hanifah, salah satu mantan menteri era Orde Lama).

Ulasannya bisa disimak di sini
https://ismiatidewi.wordpress.com/…/…/sinopsis-dokter-rimbu/

Beberapa opac dan digilib yang online sudah saya kunjungi.
Toko buku di area taman pintar malioboro juga sudah.
Perpustakaan yang baru punya Jogja juga sudah dijelajahi (malah nemu bukunya Umar Kayam).

Hasilnya masih nihil.

Novel ini mungkin tidak setenar kisah asmara Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih; atau kisah cinta Udin (Zainuddin) kapal Van der Wijk.

Jika ada info, atau rekan2 ada yang punya dan mau dilego; mohon berkenan kontak saya (luthfiassadad et gmail dot com).

Maturnuwun.

Blognya Luthfi

Tiba-tiba saja, ketika hampir semua buku-buku baru bisa didapatkan versi bajakannya di internet, saya teringat sebuah buku bacaan saya semasa kecil, Dokter Rimbu judulnya. Menceritakan perjuangan seorang dokter di daerah Taluk Kuantan Riau pada zaman penjajahan Belanda.

Gugling, cuman nemu beberapa halaman saja. Salah satunya profil penulisnya. Lebih lengkapnya klik di SINI.

Hmm, sayang, versi bajakannya tidak ada (tepatnya belum kutemukan) di internet. Semoga buku tersebut masih ada di rumah …. *pengen pulang euy*

Lihat pos aslinya

Skripsi

9 tahun berlalu.

Minggu-minggu ini, 9 tahun lalu, saya sudah agak jarang pergi ke lab. Menyiapkan seminar hasil penelitian skripsi saya yang dilaksanakan tanggal 25 Maret 2008.

Hari ini, menjelang peringatan 9 tahun saya seminar hasil penelitian; dosen kami yang baik, ibu kami di laboratorium Bioteknologi Hasil Laut IPB, masih mengingat kami semua, bahkan mendoakan kami.

Terima kasih ibu. Semoga senantiasa dalam keadaan sehat, dan diberikan keberkahan.

Sertifikat – Estafet

Sekitar tahun 2011, setahun setelah keluarnya Perpres 54 tahun 2010; materi awal diklat PBJ selalu diisi dengan diskusi mengenai perbandingan antara Keppres 80 tahun 2003 (aturan lama PBJ) dengan Perpres 54 tahun 2010. Hal ini cukup beralasan, tentu terkait dengan brainwash dan transisi teknis dan pemahaman yang dimiliki oleh rekan-rekan senior, dimana beliau-beliau telah sangat berpengalaman di dunia PBJ, namun belum lulus sertifikasi. Pas mau sertifikasi lagi, eh aturannya sudah ganti.

Saya dan beberapa rekan junior sebaya dari pabrik berkesempatan mengikuti pembekalan materi Perpres 54/2010 sekaligus mengikuti ujiannya dengan menggunakan LJK (masih manual). Pre test dan post test dapat nilai jelek. Namun alhamdulillah saat ujian saya bisa mengerjakan. Sebulan kemudian diumumkan lulus dan dapat sertifikat dengan masa laku 4 tahun.

Entah apa yang ada di benak bos kami waktu sehingga mengirimkan kami untuk satu hal yang waktu itu belum kami ketahui manfaatnya. Mungkin hal ini merupakan bagian dari yang namanya regenerasi dan pengembangan kapasitas pegawai pabrik.

Sampai kemudian setelah lulus sertifikasi, SK internal keluar dan kami diberi mandat mengaplikasikan pengetahuan hasil kursus kilat seminggu tersebut. Bagi saya pribadi, hal itu merupakan wahana untuk ujicoba/berlatih. Karena di kemudian hari saya akhirnya menyadari, bahwa Perpres 54/2010 tidak cukup kuat untuk mengeksekusi anggaran pabrik. Harus dibarengi juga dengan bekal lain di bidang keuangan (misalnya).

Bertahun-tahun kemudian, di pabrik yang berbeda, hal yang sama kami aplikasikan. Karena sadar, roda berputar, regenerasi harus, dan sertifikat PBJ ini (dan juga mungkin nanti ada sertifikat-sertifikat mandatori lainnya) merupakan bagian dari bekal untuk para pembawa tongkat estafet pabrik kami. Cuma sayang, saat ini wahana berlatih sudah jauh berkurang.