Filosofi Perut Gendut

Sebenarnya, aku sendiri kurang tahu, bagaimana pengukuran berat badan yang ideal. Waktu SD pernah diajari, berat badan yang ideal = tinggi badan (dalam cm) – 110 cm. Sewaktu SMP dapat rumus baru yang agak ribet (tapi lupa). Yang jelas berat badanku 60 kg dengan tinggi di SIM 165 cm. Yang jadi masalah adalah ternyata perutku gendut sekali alias buncit. Setidaknya sudah ada empat orang yang secara langsung maupun sindiran mengatakan demikian. Yang pertama adalah teman sekosku, beberapa bulan yang lalu. Dia sendiri badannya gendut, tapi proporsional (kata dia). Nah, dia bilang badanku bukannya gendut, tapi buncit. Dalam sekali omongannya tapi gak terlalu kutanggapi.

Tapi ada yang lebih parah lagi, masih teman sekosku juga, dia bilang aku PMDK. Yeee, emang benar aku masuk ipb lewat pmdk, tapi yang dia maksud di sini bukanlah penelusuran minat dan kemampuan, melainkan Perut Maju menDahului Karir. Singkat, padat dan tajam menusuk hati.

Yang berikutnya, teman (seorang mbak) sesama asisten di Mosi. Dia bilangnya secara sindiran …. ?biasanya cowok tuh perutnya buncit kalo sudah punya istri …?. Weh, nii kalo secara logika matematika dia mengatakan aku sudah gak bujang. Waduh, bisa ambruk nih bursa sahamku.

Yang terakhir adalah kemarin, waktu aku pulang ke Sunter. Kakak perempuanku ngomong juga tentang perutku …. ?perutmu udah kayak bos-bos? dan dilanjutkan ceramah ala murobbiyah. Yang gak tawazunlah, yang gak inilah …… dan diakhiri dengan beberapa nasehat. Komentar terakhir ini yang akhirnya kupikirkan sekarang. Setelah ngaca, kurasa-rasa dan kupikir-pikir iya juga ya ….

Lepas dari itu semua (karena itu masalahku), setidaknya perut buncit itu mengandung beberapa arti penting berdasarkan sindiran di atas:

1. Perut buncit identik dengan karir yang mapan.

2. Perut buncit berarti sudah nikah.

3. Perut buncit berarti mempunyai posisi bos.

Salah ataupun benar kesimpulanku di atas, rasanya perlu diuji lagi. Tapi aku tidak terlalu ambil pusing. Asal perutku gak seperti perutnya Semar saja dan akhirnya Gymnasium mungkin akan menjadi tempat favoritku selain labkom.

Selamat Datang di Gymnasium.

9 thoughts on “Filosofi Perut Gendut

  1. Kalo ada yang bilang baik langsung ato tak langsung tentang perut yang buncit, walaupun buat kamu mungkin menusuk hati, tapi sebenarnya mereka sayang kamu, selain penampilan , mereka juga khawatir akan kesehatan kamu juga juga khan ?

    Betul tuh kata mas Bagonk, lari adalah salah satu cara untuk mengecilkan perut , bisa juga sit up.

    Thanks e mailnya ya.

  2. Mas Bagonk
    Wong aku maunya ke sebelahnya gym koq (lapangan bola), tapi pintunya lwt samping gym. Gymnasium ipb payah, cuman buat futsal, voli ama tenis meja doanks.

    Ely
    Terima kasih atas sarannya. Pengennya sih lari dan sit up, tapi yg terlaksana baru yang sit up. Maklum, sibuk tidur ….πŸ™‚

  3. waks. jadi sekarang sudah jadi anak gym? ayo angkaaaaaaaaaat.. *militer mode ON*πŸ˜›

    ———

    Luthfi : walah, belum sempat ke gym (padahal hampir tiap hari lewat sampingnya), sempatnya baru sit up, itupun baru sekali ato 2 kali kulakukan ….. msh sibuk sp ama nge-blog

  4. ada satu lagi olga di gym lho… basket. Tp keknya kalah pop ma futsal ya? pdhl bgs bwt yg pengen bakar lemak plus cari tinggi.. =D
    *keknya sit up cuma butuh waktu 5 menit deh.. bandingin aja ma nge-net yg mpe 8 jam per hari =D =p*

    ——–

    Luthfi : makasih infonya mbak,? Kalo ngenet itu kebutuhan, klo sit up itu bukan kebutuhan, jadi harus diprioritaskan yg lbh pentingπŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s