Chitosan part 2

Ini merupakan kelanjutan tak disengaja dari tulisan sebelumnya. Agak panjang (3998 karakter) dari postingan saya biasanya. Semoga bermanfaat.

Kisah awalnya

Pengolahan hasil-hasil perikanan yang ramah lingkungan dan menghasilkan limbah dalam jumlah minimal adalah suatu impian di masa depan. Konsep ini sering dikenal dengan istilah Zero Waste System. Pada industri pengolahan (pembekuan) udang, bahan baku berupa udang disortasi (diseleksi) dan biasanya bagian udang yang berupa kepala dan kulit ?dibuang?. Nah, biasanya lagi, pada golongan udang dan kawan-kawan (seperti kepiting dan rajungan), kulitnya mengandung suatu senyawa yang dikenal dengan kitin. Sehingga, kemudian limbah udang tadi kemudian diproses menjadi suatu produk baru lagi yang bernama kitin.

Apa itu Kitin?

Kitin ya itu tadi, zat yang biasanya ada pada kulit udang. Secara biokimia, kitin ini termasuk golongan karbohidrat (contoh lain adalah beras, jagung dkk). Mempunyai struktur yang mirip dengan selulosa yang biasanya terdapat pada sel-sel tanaman. Kitin yang diperoleh dari berbagai sumber (udang dkk) memiliki struktur yang sama, kecuali ikatannya dengan protein dan kalsium karbonat yang merupakan dua komponen yang hanya terdapat pada kulit udang. Pada udang sendiri, kandungan kitin kulit udang dapat mencapai 40-60% berat kering tubuhnya.

Prosesnya?

Secara mudahnya, untuk menyulap limbah udang menjadi kitin hanya ada 2 tahap utama yang penting yaitu demineralisasi dan deproteinasi. Demineralisasi maksudnya yaitu penghilangan mineral dari bahan tadi. Nah, penghilangannya tentu tidak main Sim Salabim, melainkan dengan bantuan basa NaOH dan dipanaskan tentunya. Sedangkan deproteinasi yaitu penghilangan protein, dengan menggunakan bantuan HCl. Cerita singkatnya seperti itu.

Lantas apa itu Kitosan?

Kitosan itu adalah kitin yang mengalami proses lagi. Prosesnya dikenal sebagai deasetilasi, yaitu penghilangan gugus asetil.

Kitin dan kitosan yang dihasilkan biasanya dalam bentuk serbuk. Kitosan sendiri biasanya dimanfaatkan dalam bentuk larutan, yang dibuat dengan melarutkan kitosan serbuk ke dalam asam asetat (jawa: asam cuka).

Aplikasi kitosan?

Macam-macam, dan terus masih dalam proses penelitian, misal dibuat kertas, dibuat benang (mungkin karena strukturnya yang mirip dengan selulosa itu). Kitosan selama ini dikenal sebagai pengawet. Mekanisme yang dilakukan yaitu si kitosan ini melapisi bahan yang diawetkan (menyelubungi), sehingga bahan itu terhindar dari kontaminasi luar (hanya ini mekanisme yang saya ketahui). Akan tetapi sekedar info basbang, kitosan ini sebenarnya kalah ampuh bila dibandingkan dengan formalin. Lho Koq? Iya, serius ini mbak dan mas sekalian🙂 . Parameternya ada beberapa,

Pertama harga, formalin jauh lebih murah lho bila dibandingkan dengan kitosan. Larutan kitosan 1 liter (mengandung sekitar 8 gram kitosan serbuk) harganya sekitar $1.5. Formalin jauh dibawah itu. Kok bisa? Wah, nggak tau aku. Tapi mungkin lho ini, proses pembuatan kitin kitosan ini menghasilkan limbah juga lho (limbah dari proses demineralisasi dan deproteinasi). Nah, namanya juga limbah, tetap juga berbahaya. Nah, dengar-dengar, treatment buat limbah ini biayanya sangat besar. So, biaya ini akan jadi beban di harga jual.

Kedua efektivitas. Kitosan cuman sekedar menyelubungi saja, sedangkan formalin bisa masuk sampai ke dalam bahan. Jadi benar-benar membasmi sampai ke dalam.

Ketiga, dan lain-lain. Mungkin anda tahu? Silakan isi saja kotak komentar di bawah dan saya ucapkan terima kasih.

Makanan apa saja yang biasanya pakai formalin?

Yang saya tahu adalah tahu, bakso dan ikan laut. Anda sering makan makanan tersebut? Tak perlu cemas, setidaknya kalau memang benar bahwa formalin itu mengawetkan, besar kemungkinan mayat manusia juga akan jadi awet🙂 .

Ditulis dari berbagai nara sumber yang jelas moralnya.

= = = = = = = = = = = =

Tulisan terkait :

Uji Formalin yang sederhana —- orang awam pun bisa melakukannya

Chitosan bagian pertama

Pendapat yang aneh, mungkin untuk menenangkan masyarakat

27 thoughts on “Chitosan part 2

  1. sedangkan formalin bisa masuk sampai ke dalam bahan. Jadi benar-benar membasmi sampai ke dalam.

    membasmi sampai dalam perutnya yang makan!😀

    -=|[bersilaturahmi denGan komentar]|=-
    -=|[gretong bilang:budayakan berkomentar]|=-

  2. Ass wrwb..
    halow halow…lam kenal yaa…
    mau nanya neh bang…
    kalo limbah hasil deprotein ama demineralisasi pas ngebuat kitosan diolahnya gimana yaa… apa cukup dengan dinetralin aja pH nya???
    trus satu lagi aku mau protes boleh yaa..
    keterangan bang luthfi tulis kayanya ada yg salah deh..
    proses deproteinasi itu pake NaOH bukan HCL. nah yang pake HCl itu demineralisasi…
    makasih buat jawabannya
    Wass wrwb..

  3. Teman – Teman

    Kami Sedang mencari Ahli Lab untuk Pabrik Chitosan di Cirebon
    Berikut detailnya :

    Lab Coordinator

    Requirements:
    – Male/Female, age of 23-28 years old
    – S1 in Chemical Engineering or Chemistry
    – Min. 1 year working experience in laboratory and fluent in English
    – Computer literate on Windows program
    – Able to work hard & work under pressure
    – Good in human relationship
    – Work Location in Cirebon

    Lamaran & CV dapat dikirimkan ke info@biotech.co.id

    Salam

  4. ass, saya sedang penelitian tentang chtosan sebagai bahan pelapis sekaligus pengawet bakso. dimana bisa q dapat jurnal hasil penelitian tentang chitosan ya? cuz kebanyakan hanya penulisan di blog. tq

    • kitosan cocok aplikasinya pada bahan pangan kering..kalau basa kurang bagus sebagai pengawet..dia hanya akan berfungsi sebagai serat..karena dia dalam keadaan beta..aku uda perna kerja kitosan as soluble coating alias pengawet pada ikan kering..n hasilnya is very good..coba sendiri aja berkreasi..

  5. saya lg dapet tugas niy.. berat sangatd..
    saya pengen tau donk proses serta peralatan yang digunakan dalam pembuatan kitosan. kalo bisa ma gambarnya ya..
    plus plus lagi gw pengen tau neraca bahannya (rendemen) dari setiap tahapan…

    ditunggu, bth bgt niy.. makasih..

    kl dah dapet tlg d email aj yah..

  6. jika kita sudah melakukan proses penghasilan kitosan yang sesuai, terus kita mau tau apakah yang dihasilkan itu benar-benar kitosan, jadi bagaimana sih cara identifikasi kitosan itu.

  7. assalamualaikum…

    ada hal yg ingin sy tanyakan. untuk pemanasan pd saat demineralisasi dan deproteinasi nya gimana. bisa g klo pake waterbath?? coz waktu itu sy coba pk hotplate, ternya gelas ukurnya pecah. mungkin suhunya naik y?g bs konstan. tlg dijawab.

    klo boleh, jwbnnya di send via email yah.

    hatur nuhun
    wass

  8. ada beda antara kitosan dan formalin bagi tubuh yang mengkonsumsi dan juga lingkungan itu sebabnya kitosan dan turunannya terus dikembanngkan. informasi yanng lebih ilmiah dab populer boleh dilihat ke ptp2007.wordpress.com boleh kok ini di link kan.

  9. untuk identifikasi itu kitosan , larutin aja di 1% acetic Acid…jika larut yaa itu chitosan..

    untuk pemanasan dimineralisasi & deproteinisasi
    pakai kompor aja… suhu pastikan antara 50 – 70 derajat Celcius.

  10. sy lg tugas akhir ttg kitosan sbg adsorption terhadap senyawa phenol….
    bisa kirimin cara pembuatan kitosan yg lengkap n please minta jurnal’y jg donk…..
    tanks before….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s