Ketidaksetaraan itu

Tulisan ini based on true facts. Saya melihat kakak-kakak kelas saya, mahasiswa dari jurusan lain serta kampus lain. Ada suatu perbedaan yang mencolok. Apa itu? Tak lain dan tak bukan adalah urusan kurikulum dan lulus.

Kurikulum

Kok bisa ya, program studi yang sama, mempunyai kurikulum yang berbeda-beda. Yahhh, mungkin tergantung sikon juga sih. Misal, dulu sekali …, di Perikanan IPB ada satu mata kuliah Dasar-dasar Algoritma dan Pemrograman, mata kuliah ini akhirnya menjadi salah satu mata kuliah wajib (sampai sekarang) semua Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan seluruh Indonesia dengan nama baru yaitu Dasar-dasar Pengolahan Data Perikanan. Di kampus awal pencetus mata kuliah ini, software yang dipakai adalah bahasa program; tapi di kampus lain mata kuliah ini diajarkan dengan praktikumnya menggunakan spreadsheet. Contoh lain adalah mata kuliah ini. Praktikum untuk mata kuliah ini benar-benar menghabiskan umur. Namanya juga membuat produk tradisional, dan payahnya ada 12 produk yang harus dibuat dalam satu semester ini (dalam 14 minggu waktu perkuliahan). Namun saya bersyukur, karena berdasarkan info yang saya dapatkan dari mata-mata saya, kampus lain cuman membuat 2 jenis produk saja. Di satu sisi saya senang, tapi disisi lain ngedumel. Why? Karena lebih menyenangkan untuk menjadi mahasiswa ?autis? dengan berlama-lama di depan komputer sambil memegang mouse, membuka browser atau ngetes logika dan sintaks.

Lulus

Kok mau lulus aja susah banget sich? Di kampus lain kayaknya gampang banget untuk lulus dari S1 keparat ini. Kuliah disambi sore, kadang malah mbolos, yang penting ujian datang. Ini saya lihat terutama pada kampus-kampus kecil dan swasta di daerah plat AD dan AE yang mengadakan program ekstensi untuk para guru SD dan SMP dari jenjang diploma ke sarjana.

Sekarang lebih spesifik lagi, di kampus yang sama. Jurusan lain (terutama yang berbau Sosial dan Ekonomi) banyak yang bisa lulus dalam hitungan bulan kepala 4, misal 42 bulan, 45 bulan, 48 bulan dsb. Jurusan ini kok gak bisa ya? Dan secara kultural, mahasiswa jurusan ini memang biasanya lulus di semester 9.

Kini, cerita bahwa lulus tidaknya tergantung keseriusan kita dalam penelitian adalah hanya sekedar dongeng yang harus dikubur dalam-dalam dan dibuang ke palung terdalam di samudera sana. Dosen juga berpengaruh. Kalau dosennya bersabda : ?Udah, kamu lulus sekarang?. Lulus. SWGL. Nilai? Ah, itu bisa direkayasa Mas, apalagi kita masih hidup di Indonesia🙂 .

*Curhat seorang anak yang kini sedang kuliah di semester 7🙂 *

13 thoughts on “Ketidaksetaraan itu

  1. tenang, mas. di jurusan saya rata2 lulus di akhir tahun ke 6 (ini rata2nya lho)😀. kalo yang lulus tepat 4 tahun, langsung dianugerahi julukan “jenius”. memang kadang iri dengan bidang sos-ek yang lebih sering mhs-nya lulus cum-laude. tapi biarlah, anggap aja rejekinya masing2. salam kenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s