Sertifikasi Guru

Beberapa hari menjelang libur lebaran kemarin, ibuku disibukkan dengan sertifikasi guru. Yup, my mom is a teacher. Hmm, meski yang disertifikasi cuman dalam bentuk berkas-berkas doank, tapi sibuknya itu lho … dan aku hanya bisa membayangkan, karena aku gak ada di rumah. Alhamdulillah ada kakak sepupuku yang ngebantu ibuku. Gimana sih ribetnya?

Gak tau, soalnya denger2 dari ibuku (pas aku pulang kemarin), beliau sampai hunting sertifikat dsb ke kantor beliau yang lama di Kalteng. Hmm, fyi …. sertifikasi dikenakan bagi guru yang strata pendidikannya adalah S1, sedangkan D3 dan ke bawah nggak perlu sertifikasi (gak tau kenapa alesannya). Demikian yang kudengar dari bapak yang jadi tempat mampir waktu mudik kemarin serta ibuku sendiri. Adapun yang strata pendidikannya pasca sarjana gak aku ketahui perlu sertifikasi atau gak. Afaik, jarang-jarang guru (apalagi SD) yang mendidikannya master, apalagi doktor😛 .

Hmm, dari sekian banyak guru yang harus disertifikasi … ternyata yang lolos (alias berkualitas menurut tim penilai) cuman beberapa. Dari ratusan, yang lolos cuman puluhan aja. Itu kejadian di daerah Batang, Jateng (lagi2 tempat mampir mudik kemarin😛 ). Sampai-sampai seorang kawan ibuku lebih memilih ‘mbayar’ (untungnya gak ada pilihan sogok menyogok). Apa jadinya Indonesia kalo guru aja tukang sogok?

Hmm, lantas gimana kalo banyak guru yang gak lolos. Ibuku bilang, yang gak lolos itu harus sekolah lagi. Bukan sekolah yang bergelar (kuliah), tapi cuman semacam penyetaraan mungkin, ya kayak kursus gitu kali. Ibuku sih seneng2 aja😛 , ke Malang soalnya tempat sekolahnya itu. Dengan semakin bertambah dewasa anak-anaknya (alias sudah pada nge-kost dan masuk ke asrama), beliau jadi agak nganggur gitu dech ….

Cuman aku mikirnya gini, kalo banyak guru yang gak lolos, terus pada sekolah (yang sekolah itu dipusatkan dan terjadwal), kayaknya bakal banyak sekolah yang kekurangan guru … banyak liburnya donk tu sekolah😛 . Padahal kan tujuan sertifikasi (mungkin ini) biar pendidikan Indonesia makin maju🙂 . Gimana bisa maju kalo banyak liburnya. Mungkin murid2 disuruh belajar sendiri via e-learning kali😛 .

O iya, dari tadi ngalor ngidul gak jelas dan belum ngomongin efek samping sertifikasi. Imbal balik dari sertifikasi ini (bagi yang lolos) adalah tambahan tunjangan sebesar 1,5 juta. Bayangin kalo satuannya dolar amrik😛 .

27 thoughts on “Sertifikasi Guru

  1. sertifikasi dikenakan bagi guru yang strata pendidikannya adalah S1, sedangkan D3 dan ke bawah nggak perlu sertifikasi

    Lha iya, setauku syarat sertifikasi tu minimal S1, yang belum s1 suruh kuliah lagi. Kalo guru pasca sarjana biasanya nggak ngajar lagi, jadi pejabat.😀

    ngga usah kenaikan tujangan yg 1,5 jt itu yang dibayangin dlm dolar, gaji guru bantu yg cuma beberapa ratus ribu aja kalo satuannya dolar ya wis wangun.

  2. tambahannya lumayan lho, untuk tunjangan profesi sebesar 1 kali gaji pokok. Itu belum tunjangan yang lain. Tapi kl gak salah sertifikasi ada grade ya jg. Kl poin yg didapat tinggi ya, tunjangannya full.

    Makanya ayo dorong terus pemerintah biar anggaran pendidikan bisa 20%.

  3. Itulah rumitnya program sertifikasi guru, Mas. Dalihnya sih untuk meningkatkan mutu plus gaji guru. Tapi praktiknya? Halah, hanya dengan tumpukan bukti fisik alias portofolio itu apa benar sih kualitas guru yuang sesungguhnya bisa terpotret. Kalau ingin meningkatkan gaju guru mbok ya nggak usah pakai yang rumit2 itu. Hehehehehe😀 Semua guru dinaikkan gajinya berdasarkan prestasi. Gitu lhoh.

  4. sebenernya ada yg lebih harus di khawatirkan yaitu Rancangan Undang2 BHP yang sedang di godok sama komisi 10 DPR dan belom kelar2 sampe sekarang. Berikut cuplikan pasalnyah:

    BAB IX
    KETENAGAAN
    Pasal 29
    (1) Karyawan BHP terdiri atas pendidik, tenaga kependidikan lainnya, dan tenaga penunjang.
    (2) Pengangkatan, pemberhentian, status, jabatan, hak dan kewajiban karyawan BHP diatur dalam perjanjian kerja sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga BHP serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.
    (3) Perjanjian kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuat antara Pemimpin Satuan Pendidikan yang bertindak untuk dan atas nama BHP dengan setiap karyawan.
    (4) Ketentuan lebih lanjut tentang karyawan BHP sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga BHP.

    ini sih dari versi yg udah lama karna yg terbaru belum dapet lagih. berarti kan sistem nya sistem kontrak tuh. bisa2 kalau di sahkan dan di terapkan maka semua guru bisa diangkat dn diberhentikan kapan saja. namanya juga kontrak.

    semoga ajah revisi2 nya akan membuat semakin baik ya….

  5. Ping-balik: Sertifikasi Guru (2) « Catatan Harian di Kampus Biru?

  6. Aku juga guru,wah ………..ribert, tanggal 21 Nov 2007 aku dipanggil untuk mengikuti sertifikasi guru, seru juga karena surat2 ataupun sertifikat dah aku buangin kirain ga kepake lagi kecuali SK dan Ijazah S 1 baru aku eman-eman. Akhirnya aku kumpulin sertifikat yang paling anyar yaitu ikut work shop ICT dan seminar-seminar yang diselenggarakan dan ynag undangan ada di internet, kalo nungguin tugas dari kepsek wah …ga bakalan ditugasin ..yang pasti guru yang disenangi kepsek dulu yang dapat jatah …Tapi biarin aja deh ga apa

  7. bagaimana nasib para guru senior yang tidak memenuhi kualifikasi akademik D-IV/ S1,pemerintah mikir ga sich????
    q ga setuju banget keprofesionalitasan guru diukur dari portofolio

  8. MO ikutan nimbrung neh.
    Mengapa D3 dan kebawah tidak ada sertifikasi,
    karena jumlah guru dengan lulusan Diploma2 dan SPG (Sekolah Guru Setingkat SMA) msh banyak, terutama guru SD & para guru Bantu.
    Pantesan ortu-ku gak disuruh ikutan yah, maklum ngajarnya di SD tepi Waduk😀.

  9. sertifikasi hanya akal2an saja, ngumpulin portofolio yang isinya ndak ngerti jujur ato ndak..ada yang karena buat sertifikasi akhirnya rame2 lembaga ngadain seminar yang ndak ngerti apa yang dibahas nanti, trus ada yang rajin bikin buku yang asal comot dan ndak kompeten.kita perbaiki dulu pondasinya biar kokoh..tu kurikulum diperbaiki yang bener dulu.KBK,KTSP opo iku juntrunge?????

  10. Saya sih, setuju-setuju aja kalau memang dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Tapi, saya sih kurang percaya dengan sertifikasi guru ini dapat meningkatkan mutu pendidikan Indonesia. Kalau ndak percaya, tunggu saja apa bakal terjadi. Saya tahu banget bagaimana kualitas guru-guru itu (ini bukan berarti menafikan sama sekali adanya guru-guru yang berkualitas). Saya tahu sendiri, ada guru yang telah lulus sertifikasi, tetapi ia termasuk guru yang paling jelek ngajarnya di sekolah itu. Kalau ngajar, hanya ninggalin catatan. Kalau masuk kelas, kerjaannya hanya marah-marah. Memang pendidikan di indonesia perlu direvolusi besar-besaran. Mulai dari kurikulum, lembaga pencetak guru, gurunya sendiri, dan seterusnya. Tetapi caranya harus benar-benar serius dan sungguh-sungguh. Saya jadi geli sendiri, guru bersertifikasi kok, ngajarnya hanya pakai ceramah dan ninggalin catatan. Bagaimana murid-muridnya bisa kritis dan kreatif. Ah … non sense.

  11. Guru itu ibarat petani yang setiap hari belepotan lumpur, kepanasan, kurang gizi, kurang wawasan, tidak diberi fasilitas, kurang kesejahteraan eh, giliran panen yang untung malah para tengkulak, dan para pejabat Bulog dan dirjen dan dinas pertaniannya. Sama persis seperti guru, coba anda jalan-jalan ke Direktorat Pendidikan yang sejahtera adalah mereka. Guru mah sangat ketahuan dari penampilannya saja yaitu sederhana dan jalan kaki. Tapi kalau pegawai Direktorat Pendidikan pejabat KASI saja Golongan III a mobilnya Toyota Camri, Sedangkan guru Gol IV a paling banter kendaraannya BMW (Bebek Merah Warnanya) itupun boleh kredit. Biar kata LULUS sertifikasi gaji guru tetep aja aja kecil mungkin 1/10 kalinya dibanding pejabat Kasubag Dirjen Depdiknas. Gua dan anak cucu gua mah gak mau jadi guru AMIT??.AMIIT ??.. deh 7 turunan. Kasian deh LO para GURU.

  12. dari dulu guru menjadi pihak yang terpinggirkan, sekarang sudah mulai sertifikasi katanya bertujuan meningkatkan mutu pendidikan dan kesejahteraan, tapi kenyataannya yang disertifikasi hanya fortofolionya saja itu pun hanya orang-orang yang dekat dengan pengambil kebijakan saja, yang nota bene mereka sering meninggalkan kelas karena mendapat tugas untuk pelatihan ini dan itu, sedangkan yang rajin nungguin anak di kelas malah ga lolos karena ga punya sertifikat/ga pernah ikut pelatihan. Apa itu yang dinamakan guru yang profesional? guru yang sering meninggalkan kelas karena ikut pelatihan! Itu pun masih untung kalo yang lolos dibayar, kadang pusat ngomong gaji naik tapi daerah ngomong ga ada dana! weleh weleh kapan guru ini mau profesional dan sejahtera……….

  13. hehe seru juga ya baca komentar2 dari temen2. kalau menurutku yang namanya suatu program gak ada yang begitu sempurna. begitu juga sertifikasi guru, apalagi masih baru. pemerintah kayaknya segampang itu deh mengeluarkan program baru, pasti melalui suatu riset dan diskusi yang sampai sekarang juga mungkin belum selesai. pemerintah juga manusia2 didalamnya jadi bisa juga gak sempurna. pemerintah berusaha membuat yang terbaik buat bangsa ini, walaupun kadang masih banyak cacatnya. nah apa yang harus kita lakukan, selain mengkiritik pemerintah (bagus lho) tetapi juga memperbaiki diri kita. supaya program pemerintah dapat berjalan sesuai koridornya.mudah2an pendidikan kita bisa terus maju (dengan dukungan kita semua). amien;)

  14. Ping-balik: Sertifikasi Guru (part 4) – selesai | Logbook Katrok ~ Luthfi Assadad's WebloG

  15. Ping-balik: Sertifikasi Guru (3) « Bogor – Jakarta (hampir) Setiap Hari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s