Ra Kuti dan Pepe

Suatu ketika di zaman Gajah Mada masih belum menjabat sebagai mahapatih Majapahit, terjadi pemberontakan Ra Kuti terhadap pemerintahan Jayanegara (anak Raden Wijaya, pendiri Majapahit). Singkat cerita, Ra Kuti dan kawan-kawan berhasil dengan sukses menyingkirkan Jayanegara dari istana. Jayanegara sendiri akhirnya meloloskan diri dari kejaran Ra Kuti, tentu saja dengan bantuan Gajah Mada yang saat itu masih berstatus bekel alias prajurit biasa😀 .

Selama beberapa waktu, Ra Kuti memegang tampuk pemerintahan Majapahit. Selama itu pula keadaan negara sangat kacau balau. Terjadi kelangkaan bahan pangan, perampokan, penjarahan dan pemerkosaan, hal ini dilakukan oleh para penjahat maupun oleh para prajurit yang semestinya menjaga keamanan negara. Keadaan ini memicu rakyat di kotaraja Majapahit melakukan pepe. Pepe di sini bukanlah berjemur di pantai sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian masyarakat dewasa ini. Pepe yang mereka lakukan adalah suatu bentuk protes dengan cara berjemur di alun-alun. Sekedar mengingatkan, alun-alun biasanya terletak dekat pusat pemerintahan.

Pada era raja-raja sebelumnya, rakyat yang melakukan pepe dipersilakan masuk ke Balai Pertemuan oleh raja yang berkuasa dan menceritakan masalah yang mereka hadapi. Kira-kira istilah sekarang adalah curhat. Nah, sayang sekali … pepe yang dilakukan oleh rakyat kotaraja Majapahit saat itu tak disambut oleh Ra Kuti dengan sambutan sebagaimana sambutan yang dilakukan oleh raja-raja sebelumnya, tetapi dengan kekerasan (baca: anak panah, tombak dan pedang).

Tentu saja, rakyat yang melakukan pepe menjadi kocar-kacir. Bisa diibaratkan kejadiannya sama seperti ketika pak pulisi atau satpol PP mengusir mahasiswa atau PKL. Sejak saat itu (atau malah sebelumnya), terjadilah yang namanya ketidak percayaan rakyat terhadap pemerintahan Ra Kuti. Bahkan sebagian punggawa yang masih memiliki hati nurani juga menyesal terhadap kondisi yang terjadi.

Di saat itulah, akhirnya Gajah Mada dan kawan-kawan berhasil mengembalikan Jayanegara ke kursinya kembali. Singkat cerita, Ra Kuti terbunuh. Keadaan berangsur-angsur normal.

Sejarah selalu berulang. Apa yang terjadi di masa lalu biasanya juga terjadi pada masa sekarang. Demikian kata orang bijak. Siasat-siasat, tips dan trik yang sama dipakai. Hanya beda pelaku dan korban saja.

Silakan simpulkan sendiri cerita di atas😀 . Oh iya, cerita tentang Majapahit dan Gajah Mada bisa anda donlot di scribd.com dengan keyword Gajah Mada. Ada empat file lengkap (setahu saya, cmiiw), masing-masing bercerita tentang pemberontakan Ra Kuti (582 halaman), pergantian pemerintahan dari Jayanegara ke adik-adiknya (267 dan 241 hlm), dan pemberontakan negara bagian Keta dan Sedeng (694 hlm).

11 thoughts on “Ra Kuti dan Pepe

  1. laku pepe semacam inipun sampai sekarang masih berlaku bagi kawulo Yoja yang ingin menyampaikan aspirasi kepada Ngerso Dalem…
    Tentu ingat aksi sejuta massa pada tanggal 20 Mei 1998?
    Saat pengukuhan Ngerso Dalem sebagai gubernur oleh rakyat di November 2008…
    Juga peristiwa demo-demo yang lain…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s