Melihat Jogja tanpa Kacamata Kuda

Kurang lebih, begitu kira-kira semboyan cahandong saat email saya masih ada di list grupnya CA😉 . *Sekarang fakir benwit😦 *. Minggu lalu saya berkesempatan datang ke Jogja. Awalnya sih pengen datang ke semnaskan di UGM, tapi ternyata batal (sayanya yang gak jadi dateng), karena telanjur luntang lantung sepanjang Kayen-Wirosaban sampai ke pantai Depok🙂 . Berikut beberapa hal yang bisa saya catatkan.

1. Orang jogja yang ada di Jogja benar-benar sangat ramah. Terkesan sekali keramahannya. Mulai dari tukang becak dengan ongkos becak yang sumonggo terserah yang numpang; sopir taksi yang suka ndobos; staf TransJogja yang ramah dan menyebutkan semua nama tempat yang ada ketika hampir tiba di sebuah halte (termasuk kalau mau transit – pindah jalur). Kalo di Jakarta? Bah, saya gak bisa membayangkan, karena kita sudah dianggap pinter semua dengan disuruh membaca peta yang ada di setiap halte transjakarta.

2. Jogja = batik. Heheheheh … jadi inget dulu waktu masuk kantor hari Kamis pakai batik, banyak yang komentar kalau saya saltum (salah kostum). Hmm, di Jogja kayaknya tiap hari batik dan batik😉 – (yang ini ngliatnya pake kacamata kuda🙂 .

3. Kotagede ternyata kecamatan, bukan kota dalam arti sebenarnya😉 . Well, kasusnya sama kayak kalau kita baca iklan lelang di koran Media Indonesia, banyak banget nama kota/kabupaten yang -maaf- tidak saya ketahui. Setelah propinsi di Indonesia jadi lebih dari 27-an, saya sudah males menghafal nama kota/kabupaten. Apalagi banyak banget yang mirip-mirip seperti di Jawa Selatan ituH.

4. Depok ternyata ada di Sleman dan Bantul. Jadi setidaknya ada 2 nama tempat di Jogja yang menggunakan kata Depok, cmiiw. Saya pergi kedua lokasi Depok tersebut, yang Depok Sleman ke home industri abon ikan tuna, sedangkan yang Depok Bantul ke TPI 45 Mina Bahari. Yang terakhir ini belum menjadi TPI yang standar, pengelolaan masih fokus sebagai tempat makan dan jalan-jalan dan pengelolaannya menjadi satu dengan Pantai Parangtritis.

5. Jogja Fish Market yang letaknya di Wirosaban (cmiiw), suasananya sepi sekali. Saat saya berkunjung ke sana, pengunjungnya cuman 2 orang (saya dan teman saya)😉 . Lebih rame Pantai Depok di Bantul. Saya tidak tahu alasannya.

6. Jalan Sosrowijayan ternyata tetanggaan dengan flower market street dan ada jalan tembusnya😉 . Heran, kenapa lokasi gituan selalu dekat dengan rel dan/atau stasiun ya? tanya keunapaH?

One thought on “Melihat Jogja tanpa Kacamata Kuda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s