Jalan tanpa parit

Hidup di Bogor sejak tahun 2003, melihat berbagai sudut, menempuh berkilo-kilo meter jalan; saya menemukan sebuah keteraturan diantara sekian banyak kesemrawutan yang ada di Bogor. Keteraturan itu tak lain dan tak bukan adalah jalan yang rusak lagi tak lama setelah diperbaiki. Hal ini saya anggap sebuah keteraturan karena terjadi di (hampir) semua ruas jalan.

Saya tidak tahu (dan tepatnya tidak ambil pusing), apakah itu jalan merupakan wewenangnya pusat, propinsi atau kota/kabupaten untuk perbaikan/perawatan. Tapi yang jelas, ya itu tadi, jalannya rusak tak lama setelah diperbaiki.

Dulu kala, jalan baru adalah jalan yang sering banget rusak. Jalan sering ambles. Suatu ketika saya melihat pengurugan (calon) jalan. Eh, ternyata yang digunakan adalah tanah dengan banyak kandungan sampah di dalamnya. Bisa jadi jalannya ambles karena tanah di bawahnya adalah tanah sampah itu tadi.

Kini, jalan-jalan yang sudah settle, ketika bolong lalu diaspal ulang, tak berapa lama jalan itu bolong lagi*. Beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab untuk kasus ini misalnya

1. Penggunaan bahan-alat (aspal, batu, mesin) yang tidak memenuhi standar.

2. Tidak adanya parit di pinggir jalan.

Saya cenderung menitikberatkan pada poin 2. Bogor adalah wilayah dengan curah hujan yang tinggi. Sampai ada pepatah yang berbunyi: sedia payung sebelum ke Bogor. Masak iya, dengan kondisi wilayah yang sering hujan dan (katanya) mengirim banjir ke Jakarta, pembangunan jalan dilakukan tanpa kajian terlebih dahulu? tanpa memikirkan perlunya pembangunan parit atau selokan di pinggir jalan?

Well, semoga saja ke depan lebih baik.

Keterangan :

* titik-titik yang kadang dan sering mengalami bolong ulang dan re-aspal misalnya : depan pakuan regency, pertigaan sindangbarang, depan primagama gunung batu/pom bensin/perumahan loji pertanian, depan pintu gerbang ipb darmaga, pertigaan dekat sate solo pak anwar, samping terminal bubulak, depan terminal laladon.

3 thoughts on “Jalan tanpa parit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s