Nganufacturing Hope Nomor 131 : Dari Kereta ke Istana

Well, tulisan di bawah merupakan kontribusi saya untuk Lomba Nganufacturing Hope yang diadakan oleh milis KRLMania. Kesamaan nama tokoh dan lokasi (mungkin) hanya kebetulan belaka. Tak ada maksud untuk menyindir pihak manapun. Segala institusi yang tersebut di tulisan di bawah ini diperlukan untuk menghidupkan tulisan. Maaf yang besar sangat saya harapkan jika ada yang tersenggol dan lupa belum disebutkan namanya. Salam jabat erat, Luthfi.

[awal tulisan]

Saya tidak menyangka, program Nganufacturing Hope yang saya luncurkan beberapa tahun lalu, mengantarkan saya pada kursi RI 1. Setelah saya pikir-pikir, tulisan saya tentang perkeretaapian nasional di Nganufacturing Hope No 31: “Kereta yang selalu mBrangkang” rupanya penyebab dominan semua ini.

Segera setelah saya menulis tentang hal tersebut di pertengahan Juni 2012, sorenya saya langsung telpon pak Agam Fat, salah satu konsultan dari Serpong yang telah sukses menangani berbagai instansi dhuafa nan sekarat di Indonesia. Kepada yang bersangkutan, saya tawarkan kursi Staf Ahli Menteri BUMN Bidang Perkeretaapian. Biar tambah afdhol lagi, pak Nurcahyo moderator KRLMania yang selama ini menjadi teman diskusi melalui twitter dan telah sukses membuka cabang KRLMania di berbagai kota, saya plotkan menjadi penasehat Menteri BUMN. Setelah beliau berdua setuju, saya langsung kontak Pak Wahyu Hidayat yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Kementerian BUMN untuk mengurus administrasi pengangkatan keduanya.

Mereka berdua menambah duet Pak Tunjung (dirjen KA Kemenhub) – Pak Jonan (dirut KA) sehingga menjadi empat sekawan the dream team Percepatan Revitalisasi Perkeretaapian saat itu. Kesetiaan Anang-Ashanty tak cukup. Empat kepala tentu lebih baik daripada hanya 2 kepala. Tentu tanpa mengabaikan fakta saat itu bahwa koordinasi antar instansi di pemerintahan adalah sangat susah dan sulit, kecuali koordinasi antar oknum.

Empat sekawan yang lahir tanpa bidan di pertengahan Juni 2012 itupun bergerak cepat tanpa kenal lelah. Secepat Shinkansen kereta Jepang yang tersohor itu. Inovasi kebijakan yang mereka telurkan sungguh mengagumkan, walaupun bagi sebagian orang yang sudah bergabung dengan milis KRLMania sejak tahun 2009 hal tersebut bukan hal aneh, karena telah menjadi bahan diskusi sejak milis itu berdiri; sampai-sampai mas Brewok yang lebih dikenal sebagai Wildan Abdat dari kampung Empang di Bogor membuatkan satu url khusus untuk mengakses bank data tersebut.

Sungguh luar biasa inovasi yang mereka lakukan. Mengenai efisiensi biaya misalnya, penggunaan listrik tentu saja sangat wajib untuk kereta rangkaian listrik (KRL). Dokumen litbang dari berbagai perguruan tinggi, badan litbang kementerian, LIPI dan BPPT ditelaah dan direviu satu persatu dan disinkronkan. Data-data yang biasanya hanya menjadi paper, tersimpan di laci-laci meja peneliti menjadi landasan penggunaan energi alternatif yang hemat, ramah lingkungan, efisien dan powerfull untuk KRL.

Ajang lokakarya, seminar nasional dan semacamnya mengenai teknologi sinyal dan wessel yang selama ini dilakukan oleh LIPI dan institusi litbang lebih diintensifkan lagi. Output dan outcome kegiatan semacam ini harus jelas dan terukur (rahasia umum selama ini hanya berorientasi penyerapan anggaran, bagi-bagi honor, dan ujung-ujungnya sertifikat dengan nilai angka kredit 0.5). Semangat riset harus membara, meniru negara-negara maju yang juga sudah pasti maju risetnya.

Tak mau kalah, pak Jonan secara pemain individual sebagai dirut KA, menerbitkan telegram direksi yang pada intinya pegawai PT KA yang tidak berdinas di rangkaian kereta harus membayar ongkos kereta api/KRL untuk perjalanan sehari-hari. Kartu Pegawai, kartu sakti, mama eva, mama Yosef, mama Jonan, numpang di kabin masinis sudah tidak berlaku. Yang ada hanya kartu comet yang ditopup otomatis tiap kali pegawai gajian. Kebijakan ini dibuat karena ternyata di lapangan banyak pegawai instansi lain yang seragamnya mirip dengan seragam PT KA. Disamping agar pendapatan PT KA meningkat dan kebocoran karcis bisa diminimalisir.

Untuk mensterilkan stasiun sehingga aman, kondusif dan kebocoran karcis tidak ada; dilakukan kerjasama dengan Mabes TNI AD. Latihan yang keras dan berdisiplin tinggi selama menjadi anggota TNI AD tentu menjadi modal dasar yang kuat dan tangguh untuk mengamankan stasiun yang luasnya seluas negara Indonesia ini. Kalau di jaman Pak Harto ada ABRI Masuk Desa, kini ada TNI masuk stasiun. Tentu saat ini sudah tidak musim lagi diskon untuk TNI Polri, karena telah keluar aturan baru yang lebih baik untuk itu.

Suatu sore di akhir Desember 2014 lalu, saya mendatangi beberapa stasiun di sepanjang Jabodetabek. Suasananya sungguh telah jauh berbeda bila dibandingkan dengan kunjungan dadakan saya di awal tahun 2012. Sangat nyaman dan teratur sehingga saya langsung menghubungi Pak Setiyo Bandono dan memintanya untuk membuat puisi baru, karena puisi lamanya “Balada Negeri Kereta: Balada di stasiun Manggarai” sudah tidak sesuai dengan kondisi terkini. Susah untuk menyangkalnya kalau ini merupakan buah dari kerja keras Empat Sekawan the dream team Percepatan Revitalisasi Perkeretaapian.

Sebagian besar masyarakat tentu tak menginginkan inovasi revitalisasi perkeretapian hanya sampai di sini. Di ring 1, akan segera saya terbitkan Perpres mengenai kewajiban penggunaan kereta untuk perjalanan dinas PNS. Untung besar Garuda (manufacturing Hope No 30), penyalahgunaan anggaran perjalanan dinas, dan banyaknya manifes bodong melalui perjalanan udara merupakan tiga diantara sekian banyak justifikasi penerbitan Perpres ini. Tujuannya tentu saja untuk mendukung peningkatan kemampuan PT KA, mengingat dana PSO sudah dihapus di era pak eSBeYe.

Senja yang cerah di penghujung tahun 2014.

bukanDIS

[akhir tulisan]

One thought on “Nganufacturing Hope Nomor 131 : Dari Kereta ke Istana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s