Atas nama umur, kultur dan almamater

Sudah sekitar dua pekan ini kami sekeluarga mengikuti proses pendaftaran salah seorang sepupu dari Kaltim untuk masuk ke salah satu SMA IT di pojokan Kotagede-Jogja. Proses mulai survey ke lokasi, pendaftaran online, mengantar ke lokasi ujian, dan sampai hari ini (07/02/2015) ketika (katanya) dijadwalkan akan diumumkan hasilnya. Selama dua pekan ini, ada beberapa hal yang membuat saya kurang sreg terhadap sekolah ini.

1. Sekolah seperti kost-kostan. Sependek yang saya tahu, sekolah ini menerapkan program asrama bagi yang berminat, dengan lokasi asrama terletak di luar pagar SMA. Kenyataan yang saya jumpai pada hari H ujian (01/02/2015) sekitar jam setengah delapan pagi, ada banyak kesibukan di gedung 1 untuk beberapa (mungkin) siswa yang sedang wira-wiri habis mandi – ganti baju, dst. Disamping itu ada jemuran berupa jas hujan di pagar pembatas lantai 3 justru pada saat para calon ortu siswa datang ke sana. Saya pikir tidak etis hal-hal seperti ini ada pada saat itu. Saya bahkan sampai menegur dan meminta seseorang (yang ngakunya guru tidak tetap di situ) untuk memindahkan jemuran jas hujan di lantai 3 tersebut.

2. Para guru yang kurang berwibawa. Saya selalu membayangkan bahwa sosok guru adalah sosok yang berwibawa. Entah karena faktor umur saya yang semakin tua dan area pergaulan saya yang dipenuhi dengan orang-orang berumur, atau memang guru di sana memang tidak menunjukkan wibawanya babar blass. Saya lihat hal ini dari penampilan guru yang saya tegur di poin 1 di atas, kemudian guru yang menjadi MC saat acara pembukaan hari H ujian, serta pak kepala sekolah yang menyampaikan paparan pada saat itu. Singkat cerita: pak guru yang jadi MC sepertinya baru pertama kali nge-MC dan tidak lulus mata pelajaran muhadhoroh saat sekolah/kuliah dulu; pak kepala sekolah dalam paparannya ada statement tidak mengetahui jumlah pendaftar sampai hari H. Sebagai pimpinan di sana, janggal hal itu dia ucapkan. Oke-lah pak kepala sekolah tidak tahu jumlah persisnya, akan tetapi kan bisa disampaikan kepada para calon ortu dan calon siswa bahwa jumlah pendaftar sudah sembilan puluh sekian orang, katakan begitu. Jangan ujug-ujug memberikan statement tidak tahu, dan hanya panitia yang tahu. Memangnya pak kepala sekolah tidak menjadi bagian dari panitia (sebagai pengarah minimal), atau pola manajemennya lain?

3. Kurang islami? Ini sebetulnya bisa diperdebatkan. Hari ini ketika kami ingin melihat hasil ujian di SMA, sepertinya ada salah satu siswi yang ulang tahun-nya dirayakan oleh teman-temannya. Adegan tepung-menepung terjadi persis di depan pagar sekolah. Entah faktor umur, entah faktor kultur, entah karena saya lulusan honggowongso 94 yang tidak pernah lihat adegan tersebut selama di sma islam. Koq rasanya janggal ya hal itu terjadi di SMA dengan label Islam terpadu. Dengan label islam terpadu, sependek yang saya tahu, sekolah ini pasti masuk JSIT (Jaringan Sekolah Islam Terpadu). JSIT berafiliasi kemana, you know-lah.

Sebagai penutup, malam ini saya lihat status pesbuk dari salah seorang senior Honggowongso 94. Sepertinya benar, bahwa sebengal apapun bapaknya, si bapak pasti ingin anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik.

bahtiar fb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s