Bu Jajah Koswara – tak lekang oleh zaman

Bertahun-tahun mburuh di lingkungan ndoro ambtenaar; menyebabkan saya agak kelupaan melakukan penelitian. Argometer jabfung peneliti sudah mulai jalan. Sementara poin yang dikumpulkan belum memenuhi buat naik ke tahapan berikutnya. Alhamdulillah, ada jalan dengan kuliah lagi di ugm, dan saat ini sedang berusaha untuk memulai penelitian untuk tesis. Di saat-saat seperti ini, saya kembali teringat dengan salah satu postingan saya tentang Bu Jajah. Postingan yang saya buat, agar saya selalu ingat bahwa jalan hidup di penelitian merupakan jalan hidup yang baik dan bermanfaat untuk kehidupan.
Prof. Jajah Koswara. Ya, dari awal nyantri di ipb dramaga, sampai dengan lulus, bahkan tinggal beberapa tahun di bogor; tak sekalipun saya mengikuti kelas beliau. Mungkin pernah jumpa muka di jalan, tapi saya saat itu belum/tidak mengetahui beliau.
Saya baru mengetahui nama beliau ketika sudah menikah dengan Uma (yang nyantri dua kali di pertanian ipb). Saya sempat baca “Pelajaran hidup yang tak pernah usai: jalan masih panjang”, buku purnabakti Prof. Jajah Koswara (yang kemudian jadi postingan tersebut). Buku yang sangat inspiratif dan mengharu-biru. Hari ini saya sempatkan untuk googling lagi nama beliau, dan menemukan salah satu laman di kompasiana yang mengulas tentang beliau (link). Mungkin ada lebih banyak lagi teman-teman lain yang punya kenangan dengan beliau cuma tidak diposting.
Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama.
Well, demi hari depan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s