Tentang Harga Rumah yang Menjulang

Dua hari lalu, saya mendapatkan kiriman gambar tentang betapa mahalnya harga rumah di Jogja dari Grup WA alumni Honggowongso 94 SKA. Jadi terkenang sekitar 3 1/2 tahun lalu, saat pertama kali menginjakkan kaki di Jogja untuk memutuskan menetap (sebetulnya sudah sering di Jogja, cuma nggak lama). Usaha pertama yang kami lakukan (saya bersama Uma, atau Uma bersama saya, hehehe) adalah mencari rumah kontrakan.

Mencari rumah kontrakan di Jogja gampang-gampang susah. Mantengin iklan di olx, krjogja online maupun cetak, koran tribun jogja, dst. Terkadang, sudah kontak yang punya rumah, ternyata sudah keduluan oleh orang lain dalam waktu tidak jauh berbeda (cuma selisih 10 menit datangnya). Kalau kata orang asli sini, istilahnya rumah itu pulung. Kalau berjodoh ya dapat, kalau tidak pulungnya walaupun uang ada, lokasi strategis, ya bablas saja.

Nah, kembali ke harga rumah. Entah apa penyebabnya kenapa rumah di Jogja makin mahal. Bisa jadi hukum ekonomi berlaku di sini. Demand lebih besar dibanding supply. Sudah banyak pembatasan perijinan pembangunan perumahan, karena daerah utara seharusnya daerah pegunungan nan hijau dan daerah selatan adalah difokuskan untuk pertanian. Memang ada lokasi-lokasi seperti Guwosari, dll yang di area bukan untuk pertanian. Tapi jauhnya itu lho, nggak ketulungan (perasaan doang mungkin).

Anyway, ini kiriman dari teman tersebut.
f0888e5a-d69d-4372-93ed-1fa4b3c91888

Iklan

4 thoughts on “Tentang Harga Rumah yang Menjulang

  1. adalah betul. mungkin penulis tirto id — dan juga anggota redaksi lainnya 🙂 — sedang gundah menghadapi kenyataan, bahwa untuk beli rumah sederhana saja musti menyiapkan 300 juta. itu pun bukan rumah di kota, namun sub urban.

    pemerintah hanya memberi solusi dengan rumah subsidi, 100 jutaan, namun tak usah tanya lokasi, kualitas bangunan, dst.

    generasi y,z mungkin beruntung dapat mengisi hari-hari dengan keramaian gadget, teknologi, hiburan, namun ada suatu saat nanti mereka harus menabrak tembok, rumah mahal tak akan terbeli, kecuali minta bantuan orang tua.

    ya kalo orang tuanya mampu, kalau tidak? kemana pelariannya? lari dari jogja? migrasi ke kota yang harga tanahnya lebih murah? kerjaannya bagaimana?

    silahkan saja generasi sebelumnya, menengah yang sudah stable menggoreng harga tanah. namun, sebenarnya mereka sedang menggali jurang, ikut serta mengerek gini ratio, menendang inflasi, dan akan menjerat leher generasi anak-anak mereka karena gajinya tak akan mampu membayar angsuran rumah.

    kontraktor selamanya.

    beruntunglah saat ini anda2 yang sudah punya rumah sebelum harga tanah di jogja overpriced.

      • aku wingi yo ngumpulke tulisan mengenai tingginya gini ratio di jogja, lihat di bocahcilik 2 post terakhir.

        yg menjadi kekhawatiran adalah karena jika tren ini terus2an menguat, maksudnya gini rasio semakin tinggi, maka akan terjadi konflik sosial.

        jika ini bisa dipancing maka ya seperti 65,98, itu.

        la kemarin kita masih ditambahi michael essien kesini. dengan bandrol 11 M meski ditawar2 sampai 6 M – 8 M. coba kalo ini terus2an jg, misal persebaya yg baru dibeli azrul ananda ikut2n. ato aremania. sementara mental masyarakat ya dari dulu begitu2 aja.

        ini akan semakin membuka kesenjangan juga.

        lihat kasus spanyol. dengan model gaji real madrid, barcelona, yang tentu tidak melambangkan keseluruhan kesejahteraan rakyatnya. apa pekerjaan yang terkenal di spanyol? copet.

        sorii ini cuma pandangan sepintas,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s