APBN P tempo dulu

Suatu siang di bulan September saat masih megawe di Jakarta, saya dipanggil oleh bos saya.
“Mas, APBNP ini reward buat kantor. Pimpinan kita dengan segala daya mengusahakan kenaikan anggaran ini. Tulung sampeyan balas dengan prestasi yang sebaik-baiknya buat mengoptimalkan anggaran ini. Ingat, semata-mata kedinasan.”

“Baik. Siap pak.” (diskusinya panjang, tapi kurang lebih demikian jawaban saya sebagai prajurit).

Keluar dari ruangan beliau, pikiran saya berkecamuk. Baru lulus sertifikasi PBJ LKPP sekitar Maret, eh di triwulan 3 kantor dapat anggaran tambahan dalam bentuk APBN P. Jaman tahun itu, APBN P selalu identik dengan tambahnya anggaran kantor. Tidak seperti jaman sekarang, APBN P justru malah mengurangi anggaran kantor, dimana kuantitas target output yang telah ditetapkan tidak boleh berkurang.

September anggaran baru turun, pertengahan Desember KPPN biasanya sudah tutup untuk penerimaan SPM LS. Cuma tersisa waktu 3 bulan untuk pelaksanaan pemilihan penyedia (lelang), pelaksanaan pekerjaan, testing/pengujian hasil pekerjaan. Pengadaan barang, tim-nya cuma 4 orang. Lha koq 4, bukankah harus ganjil namanya panitia pengadaan? Tenang sodara-sodara, yang satunya merupakan pak kusir yang suka antar wira-wiri kemana-mana dan untuk hal-hal yang sifatnya teknis sekali.

Dengan koordinasi tingkat tinggi, sedang dan rendah; intensif dan super intensif; akhirnya proyek yang mungkin setara dengan pengadaan kapal selam itupun sukses selesai dilaksanakan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s