Singkong Kebasen vs singkong Mukibat

Well, sebenarnya ini superduper basbang.

Beberapa waktu lalu, waktu lagi baca koran pas lagi naik kereta, ada satu berita agak menarik. Mengenai singkong kebasen. Singkong ini adalah persilangan antara singkong biasa dengan singkong karet. Singkong biasa menghasilkan umbi dengan pohon yang biasa-biasa saja, sedangkan singkong karet tidak menghasilkan umbi tapi pohonnya “raksasa”. Persilangan kedua jenis singkong ini mampu menghasilkan umbi singkong dengan bobot mencapai 1,5 kuintal.

Well, penemu singkong kebasen ini adalah pak Tumarjo, dari Kebasen, suatu wilayah di Banyumas – Jawa Tengah. Menengok ke belakang, ketika saya masih SD dulu (kira-kira 15 tahun lalu), saya pernah membaca buku yang bercerita tentang persilangan singkong biasa dengan singkong karet. Tetapi bukan singkong kebasen, melainkan singkong Mukibat. Nama singkong Mukibat ini diambil dari penemunya, yaitu pak Mukibat.

Nah, entah dimana bedanya antara kedua jenis singkong ini? Saya juga kurang paham. Hasil umbinya sama-sama besarnya, di atas rata-rata umbi singkong biasa. Apakah singkong kebasen merupakan penerus dari singkong mukibat? atau hanya sekedar tren sesaat?

Jalan tanpa parit

Hidup di Bogor sejak tahun 2003, melihat berbagai sudut, menempuh berkilo-kilo meter jalan; saya menemukan sebuah keteraturan diantara sekian banyak kesemrawutan yang ada di Bogor. Keteraturan itu tak lain dan tak bukan adalah jalan yang rusak lagi tak lama setelah diperbaiki. Hal ini saya anggap sebuah keteraturan karena terjadi di (hampir) semua ruas jalan.

Saya tidak tahu (dan tepatnya tidak ambil pusing), apakah itu jalan merupakan wewenangnya pusat, propinsi atau kota/kabupaten untuk perbaikan/perawatan. Tapi yang jelas, ya itu tadi, jalannya rusak tak lama setelah diperbaiki.

Dulu kala, jalan baru adalah jalan yang sering banget rusak. Jalan sering ambles. Suatu ketika saya melihat pengurugan (calon) jalan. Eh, ternyata yang digunakan adalah tanah dengan banyak kandungan sampah di dalamnya. Bisa jadi jalannya ambles karena tanah di bawahnya adalah tanah sampah itu tadi.

More

Resapan Air di Bara – Kampus Dalam

Tadi malam, iseng beli makanan di jalan raya Darmaga Bogor, tepatnya di depan apotik. Usai beli makanan, jalan-jalan masuk ke jalan Bara (yang secara ‘resmi’ disebut jalan raya Bara, padahal sebetulnya nama yang lebih resmi lagi pakai nama pahlawan. Cek plang kantor desa). Disamping kiri jalan, biasanya banyak warung tenda. Tetapi antara pos polisi sampai dengan gerbang plasa telkom, warung tenda yang biasanya ada gag buka.

Usut punya usut, ternyata sedang ada ‘renov’ besar-besaran antara pos polisi sampai dengan gerbang plasa telkom. Pohon besar ditebang dan trotoar (yang seharusnya/sebaiknya dibuat memakai paving block) dibuat memakai semen (bukan semen yang ntu tentu sahaja).

Wah, semakin berkurang sahaja daerah resapan air di Bara.

RT di Twitter

Kemarin, iseng cek akun twitter *halah*, ternyata banyak yang reply2an pake reply to. Sret kesana kemari, nemu akun twitter @RetweetbukanReplyTo. Yayayaya … mungkin yang sudah fasih pake twitter pada tahu kalo RT adalah Retweet, bukan Reply To. Cuman masalahnya, sekarang ini banyak yang reply-replyan pake RT, yang ujungnya adalah penyalahgunaan istilah RT ini tadi.

Yang aku tangkap dari kejadian kemarin:

1. Kesalahan memahami makna RT. RT adalah retweet, bukan reply to. Sila cek di wikipedia.

2. Kesalahan penggunaan RT.

3. Pemborosan karakter. Karena RT-RT yang mereka lakukan masih mengandung kata/kalimat dari akun sebelumnya. Sehingga jumlah karakternya bisa labih dari 140 karakter.

4. Untuk poin no 3, karena boros karakter, diduga hal ini menyebabkan nyasarnya sejumlah twit ke timeline orang lain. Misal harusnya si akun bernama @RadenMasAdhi, cuman disebut @Adhi atau @Raden sahaja.

More

Selamat Jalan Kawan

Saya mengenalnya sejak tahun 2005. Mungkin masih terlalu singkat lama pertemanan (aka persahabatan). Kami sering mengobrol masalah-masalah terkait bisnis dan ring-ring mahasiswa. Karena waktu itu, saya cenderung masa bodoh dengan gerakan mahasiswa di kampus yang kental dengan nuansa kepentingan kelompok tertentu. Dia sih tidak ikutan, hanya saja pergaulannya yang luas membuat dia (hampir) tahu semuanya dan bersedia untuk sharing dengan saya.

Terkait bisnis, ini karena keaktifannya di dunia kopma. Well, jujur saja, saya hanya punya teori dan keinginan. Sedang dia sudah melakukan aplikasi di dunia nyata (walau mungkin masih di laboratorium sederhana bernama kopma). Sebuah keunggulan dirinya.

Terpisah beberapa saat di awal 2009 sebelum akhirnya kami bekerja di kantor yang sama. Untuk sementara, jiwa bisnis dan wirausaha kami nampaknya harus dikalahkan oleh mental lemah kami menjadi buruh. Mulai bulan Juni ini, dia resign dan pergi ke sebuah pulau (yang kira-kira masih ramai juga) nun di dekat negeri Singa.

Selamat jalan kawan!

Previous Older Entries

My Tweets